Menyelundup untuk Kemakmuran Republik

Bendera Indonesia

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Asmara Moerni
Adenan Kapau Gani

Seruan alam dari gunung ke gunung. Seruan Rakyat dari kampung ke kampung. Seruan bapak membajak sawah. Seruan ibu dengan bayi di rumah. Seruan si gadis di pinggir sungai. Seruan pemuda dari hulu ke pantai. Seruan buruh menggali tambang. Seruan pekerja menghasil barang. Seruan pegawai mengatur negeri. Seruan prajurit bertahan di darat. Seruan santri dijajah keparat.

Serukan si tua mimpi bahari. Serukan si muda bermimpi nanti. Serukan si malas lekas bangun tidur. Serukan si bimbang jangan salah ukur. Celaka rakyat pemimpin bercerai. Pemimpin mimpi tujuan tak sampai. Bisikkan kekasihku. Sabar menunggu.

Soarak merdeka gemuruh guntur. Zonder merdeka terus menggempur. Nusantara geger bergoyang gempa. Indonesia pasti abadi merdeka.

A. K. Gani

Petualang asal Minang ini mewarnai politik dan diplomasi berangasan masa kemerdekaan. Sukses sebagai raja penyelundup, ia ditunjuk Soekarno sebagai Menteri Kemakmuran. Wajah lain deretan pejuang yang mengabdi hanya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Minggu, 28 Oktober 1928. Gesekan biola lelaki berkopiah hitam dan berkacamata itu mendayu dalam tempo moderato, 96 ketukan. Ratusan pemuda yang hadir di rumah sumbangan Sie Kong Liong di jalan Kramat Raya 106 itu dibuat seolah tersihir. Itulah kali pertama lagu Indonesia Raya diperdengarkan pemuda bernama W.R Supratman melalui instrumen biola.

Selepas itu, Kongres Pemuda II yang jadi tonggak sejarah persatuan Indonesia itu mengumumkan hasil putusan finalnya dan mengikat semua hadirin: Sumpah Pemuda! Ikrar mereka, yang berasal dari kelompok Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Ambon, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, Jong Islameten Bond, Jong Sumatranen, Jong Java, dan Jong Bataks Bond, terus bergema dan selalu aktual. Kini, Gedung Indonesische Clubgebouw, tempat dideklarasikannya Sumpah Pemuda, itu diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda. Sementara rekam jejak Sumpah Pemuda terlihat dalam gambaran diorama yang ditampilkan di situ: patung-patung yang mewakili tokoh peserta Kongres Pemuda; sejumlah potret dan rekonstruksi peristiwa di hampir setiap ruangan museum.

Salah seorang tokoh yang hadir pada Kongres Pemuda itu adalah Adenan Kapau Gani. Kendati hanya berstatus peserta, A.K Gani berperan sebagai penyumbang dana untuk suksesnya kongres yang diketuai Sugondo Djojopuspito itu. Menurut Agus Nugroho dalam Sosok Pejuang Bangsa; dr Adenan Kapau Gani, saat itu Gani sudah merintis berbagai usaha, mulai dari mengelola penginapan, menjadi makelar buku-buku asing, hingga menyelenggarakan usaha penerbitan.

Mereka yang tadinya datang dengan semangat kedaerahan, dalam kongres itu akhirnya bersepakat melebur dalam wadah berwatak nasional: Komisi Besar Indonesia Muda (KBIM). Setelah empat tahun berkecimpung dalam organisasi pemuda, Gani pun memutuskan terjun ke dunia politik. Suasana politik ketika itu (1931), masih dihangatkan dengan berita penangkapan Soekarno, Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh polisi Belanda.

Pasca penangkapan itu, PNI terbelah menjadi dua kubu akibat isu adanya pelarangan dan pembubaran partai. Mereka yang propembubaran, membentuk Partai Indonesia (Partindo). Sementara, yang tidak setuju pembubaran (Hatta dan Sjahrir), mendirikan PNI Baru. Dalam situasi membingungkan itulah A.K. Gani menetapkan pilihannya untuk bergabung dengan Partindo.

Keluar dari penjara Sukamiskin, Soekarno berupaya menyatukan kembali PNI, tapi gagal. Meski pada 19 April 1932, ia akhirnya terpilih menjadi Ketua Partindo. Sejak itu, hubungan Gani dan Soekarno terjalin erat. Tak aneh bila pada akhir Agustus 1945, Soekarno menunjuknya sebagai Ketua PNI Wilayah Sumatera, sekaligus menjabat Residen Palembang.

Sebelumnya, pada Mei 1945, Jepang membentuk Hoko Kay (Badan Kebaktian Rakyat), Tujuannya, membangun kekuatan bersama rakyat jajahan untuk membendung tentara Sekutu, seraya menjanjikan kemerdekaan. Namun, dalam pertemuan Chou Sangi in (Sidang Umum Dewan Sumatera) Gani berteriak lantang, “Tidak ada Indonesia merdeka, berarti tidak ada bantuan untuk Jepang!”

menyelundup untuk kemakmuran republik
Kiri ke kanan: Bupati Kuningan Moh. Achmad, Ny Soewadji, Ny Soeratmo, Sri Oemijati, Maria Ulfah, dan Adnan Kapau Gani di rumah Bupati Kuningan.

Menariknya, pada saat kebanyakan daerah di Indonesia terperangkap konfrontasi melawan Sekutu, Gani justru mampu menciptakan iklim kondusif di Palembang. Ia bahkan menempatkan Palembang sebagai poros utama kegiatan ekonomi Republik Indonesia, tulis Mestika Zed, dalam Kepialangan Politik dan Revolusi.

Strategi Gani saat itu, disebut “diplomasi minyak.” Dengan penuh optimisme, pada 30 Agustus 1946 ia menelegram Menteri Moh. Natsir di Yogyakarta: “Segera kedua instalasi minyak Plaju dan Sungai Gerong diperbaiki… sehubungan dengan Oil Diplomacy… Pengangkutan minyak mentah ini dapat dijadikan mekanisme diplomatik yang ampuh untuk memperoleh pengakuan de jure.”

Gani lalu menawarkan kesepakatan pada Sekutu: Pihak Republik diwakili Persatoean Pegawai Minjak (PPM) sebagai pelaksana sekaligus pemegang hak konsesi. Sementara pihak perusahaan Belanda (Shell dan Nederlandsch Koloniale Petroleum Maatschappi) hanya diberi kewenangan sebagai penanam modal. Uniknya, harga didasarkan negosiasi PPM dengan pihak Sekutu sebagai pembeli.

Dalam kesepakatan itu juga ditegaskan, instalasi minyak di luar Plaju dan Sungai Gerong, tidak termasuk dalam perjanjian. Pemeritahan Republik akan mengeksploitasi sendiri ladang-ladang minyak di daerah pedalaman, di bawah otoritas Peroesahaan Minjak Republik Indonesia (Permiri), menggantikan perusahaan minyak Jepang (Dai Ichi Seyudyo dan Dai ni Seyudyo). Dengan demikian, Tentara Rakyat Indonesia (TRI) untuk wilayah Palembang, yang dijuluki sebagai Batalyon Minyak, berfungsi mengamankan jalannya produksi dan distribusi.

Menurut Mestika Zed, hasil dari penjualan minyak itu disalurkan ke kas negara, untuk membiayai birokrasi pemerintahan. Tak kalah penting, untuk anggaran militer sebagai persiapan menghadapi kemungkinan agresi Belanda. “Hasilnya, Tentara Indonesia saat itu, mulai mendapatkan seragam dan persenjataan yang dibeli melalui penyelundupan, karena laut Indonesia diblokade Belanda,” ujar Mestika. Konon, dalam suatu kurun waktu, A.K. Gani pernah menghasilkan sekitar 5 juta dolar Amerika, gara-gara diplomasi minyak.

Salah seorang petugas lapangan yang dipercaya Gani dalam tugas-tugas penyelundupan di Selat Malaka untuk memperoleh senjata adalah Laksamana John Lie. Kenyataannya, tak hanya minyak, Palembang juga memiliki potensi sumber daya alam lain yang mampu dimaksimalkan Gani untuk membiayai republik yang masih bayi itu. Antara lain tambang batu bara, komoditas karet, kopi, dan lada.

Peran penting yang dimainkan Gani di Palembang, serta merta mendongkrak pamornya. Tak heran bila pada Oktober 1946, ia diangkat sebagai Menteri Kemakmuran. Salah satu programnya sebagai menteri adalah membentuk pranata ekonomi baru bernama BTC (Banking and Trading Company). Cabang-cabang BTC hampir ada di seluruh daerah Jawa, Sumatera, dan Singapura. Jaringan BTC yang terhimpun lebih dari 20 perusahaan besar bumi putera, punya jaringan luas mulai dari Singapura, Hongkong, Shanghai, San Francisco, New York, Washington, sampai London.

Dalam kapasitasnya sebagai diplomat, A.K Gani juga dinilai Belanda sebagai “ondiplomatieke opmerking,” akibat watak dan gayanya yang sering meledakledak, alias tak bisa menahan emosi dalam menyampaikan pendapat politiknya.

Pada pertemuan lanjutan usai penandatanganan Perjanjian Linggarjati misalnya, dengan nada tinggi Gani berkata, ”Sekarang, Belanda tidak tak punya hak lagi mengeluarkan izin ekspor hasil pertanian Indonesia!” Akibatnya, Wakil Panglima Angkatan Laut Belanda A.S Pinke menimpalinya tak kalah sengit, “Saya adalah penguasa perairan di kepulauan ini!” Toh, Gani membalasnya dengan senyum penuh arti, seolah mengatakan bahwa blokade Belanda, itu tak ada pengaruhnya. Sebab, ia sudah terbiasa dan selalu berhasil melakukan penyelundupan.

Berkat sepak terjang dan perilakunya, suatu ketika Soekarno memuji A.K. Gani, “Jika Belanda menjuluki A.K. Gani dengan sebutan Raja Penyelundup di Asia Timur (the greatest smuggler of East Asia), maka rakyat Indonesia menyebutnya Menteri Kemakmuran!”.

Pejuang Multitalenta

Sejarawan Mestika Zed menuturkan bahwa Moh. Hatta pernah menyebut A.K Gani, kelahiran Palembayan, Sumatera Barat pada 16 September 1905, itu sebagai seorang Thespian yang baik. Istilah Thespian merujuk pada mitologi Yunani tentang keahlian seseorang yang bisa memerankan pelbagai lakon sekaligus dalam waktu bersamaan. Gani juga diketahui sebagai dokter aktif, yang pada masa setelah kemerdekaan, membuka praktik di Palembang. Gani memang lulusan kedokteran di STOVIA pada 1940. Selain praktisi ekonom, ia juga ahli strategi militer, dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Menariknya lagi, ia pernah menjadi aktor dalam film Asmara Moerni, pada zaman pergerakan. Selain itu, ia juga pernah menekuni dunia jurnalistik, sebelum menjadi penggubah puisi.

Fauzani Mufid