Kemenangan tim sepakbola Spanyol atas Italia dengan skor 4-0 dalam final Piala Eropa 2012 awal pekan lalu bukan hanya menorehkan sejarah juara bertahan Eropa. K iev, Ibukota Ukraina dan Warsawa , Ibukota Polandia turut melejit menjadi negara yang berhasil menjadi tuan rumah penyelenggara kompet isi paling bergengsi di Eropa . Sejarah kelam dua negara itu pada zaman Nazi dan era Perang Dingin Uni Soviet- Amerika nyaris sirna dari ingatan. Semua orang larut dalam kegembiraan sekaligus keharuan. Patriotisme revolusioner berubah menjadi nasionalisme kulit bundar.
Saya tak pernah menyangka jika Jalan Wybrzeze Kosciusz kowskie menjadi pusat pembukaan Piala Eropa 2012. Di layar kaca, jantung kota Warsawa itu menjadi sedemikian megah, mewah, dan terarah. Suasana itu amat berbeda dengan situasi ketika beberapa tahun silam saya menjejakkan kaki di jalan itu. Saat itu, para pemilik kedai kopi , sopir taksi, dan sejumlah warga kerap memperingatkan saya agar berhati-hati atas tindakan kekerasan jalanan. Mereka menyarankan saya tak berjalan-jalan sendirian di malam hari karena kerap terjadi aksi rasis.
Saya tidak menuruti peringatan itu . Bukan bermaksud mementahkan niat baik mereka . Tapi saya merasa sayang jika kehadiran saya di kota tempat ditandatanganinya Pakta Warsawa, hanya saya gunakan numpang pindah tempat tidur. Bagaimanapun juga pakta pertahanan aliansi militer negara-negara d i Eropa Timur itu mampu menangkal intervensi negara-negara yang bersekutu di dalam NATO, aliansi militer di bawah komando Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, perang dingin kedua aliansi militer itu telah mempengaruhi kebijakan keamanan seluruh negara di dunia.
Maka ketika saya mengambil resiko menyusuri lorong Warsawa di malam hari, yang ada di dalam hati saya bukan perasaan takut menjadi korban vandalisme, tapi justru membuncahnya romantisme yang melankolik. Bangunan-bangunan klasik Eropa yang saya lalui kuat memenjara keinginan saya untuk terus berjalan. Orang lalulalang berjaket tebal yang berpapasan dengan saya, serasa seperti para kekasih yang menjaga saya di tiap tikungan.
Saya ja di mahfum, mengapa para penyair di Taman Ismail Marzuki tahun 1980-an begitu suka membicarakan Czeslaw Milosz, satrawan Polandia peraih Hadiah Nobel Sastra 1980. Di Warsawa, dia mempublikasi kan dari bawah tanah , puisi-puisi suram tentang cinta , kemanusiaan, dan dunia yang terjejas. Milosz juga turut dalam gerakan bawah tanah melawan Nazi yang hendak menghancurkan Polandia. Dia berjuang dalam senyap, seperti dalam baris terakhir pusinya Cinta — “Orang terbaik yang melayani sering tidak perlu memahaminya.” Dia berikan cintanya pada Polandia sepenuh hati.
Maka ketika kini Polandia , juga Ukraina menjadi negara yang berbinar, saya yakin bukan hanya karena mereka berhasil menjadi tuan rumah Piala Eropa 2012 . Kebangkitan kedua negara itu pasti buah dari keberhasilan pemimpin melayani rakyat dan ketepatan mencari mitra politik . Tentu ada pengorbanan yang tulus di antara mereka. Seperti Milosz, Hafez Shirazi dang penyair asal Shiraz, Iran melukiskan Cinta dengan untaian kalimat yang luar biasa. “Jika kau ingin tahu tentang cinta tanyakan pada lilin, karena lilin tak hanya menyaksikan namun juga berkorban bagi cinta. Jangan kau berharap pada angin, karena angin sekadar menyaksikan cinta, namun seketika meninggalkannya.”
Dan saya bersyukur, pada malam-malam mencekam di Warsawa itu saya tak pernah percaya pada peringatan tentang ancaman kekerasan. Saya yakin, sesungguhnya peringatan itu sama halnya dengan melestarikan ketakutan yang nilainya sama dengan kekerasan itu sendiri. Dengan melawan ketakutan, saya merasa menemukan lilin, bukan dengan percaya pada p eringatan orang-orang b aik yang sesungguhnya hanya angin lalu semata.