Fasilitas berlatih atlet olimpiade Indonesia kurang memadai. Masalah dana pengiriman tim menjadi sorotan.

Lifter Indonesia saat latihan persiapan menghadapi Olimpiade London 2012 di GBK, Senayan, Jakarta.
Triyatno menarik nafas dalam-dalam. Dengan posisi sedikit jongkok, atlet angkat besi ini mengangkat beban seberat 180 kilogram yang ada di hadapannya. Setelah terangkat beberapa detik, pria yang mengenakan kaos dan celana warna hitam ini lantas menghempaskan barbel itu ke lantai.
Secara bergantian, laki-laki yang berhasil meraih perunggu untuk kelas 69 kilogram pada Olimpiade Beijing, Cina, 4 tahun lalu itu, berlatih bersama lima kawannya. Pantauan Prioritas, alat latihan yang digunakan tampak sebagian sudah berkarat. “Alat-alat latihan sudah lama (tak diganti) dan sudah berkarat, kalau tidak hatihati bisa terluka,” katanya kepada Prioritas, Rabu pekan lalu.
Tempat yang minim ventilasi juga menjadi masalah tersendiri bagi atlet angkat beban yang bergabung dengan pemusatan latihan nasional (pelatnas) sejak tahun 2000-an ini. “Pengap sekali,” ujar Triyatno.
Sony Kasiran, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBBSI) membenarkan keterbatasan alat latihan atlet angkat besi. “(Peralatan) saat ini belum turun sama sekali, padahal sebentar lagi mau berangkat ke olimpiade. Sudah diajukan tapi tidak tahu dikabulkan atau tidak,” ujarnya.
Masalah minimnya fasilitas latihan menjelang berlaga di Olimpiade London, Inggris, 27 Juli hingga 12 Agustus mendatang, juga dikeluhkan atlet lainnya. I Gde Siman Sudartawa, atlet renang, misalnya. Perenang yang akan turun di kelas 100 meter dan 200 meter gaya punggung putra ini kesulitan melakukan evaluasi gerakan saat berlatih. Itu lantaran kolam renang tak dilengkapi dengan fasilitas kamera bawah air. “Kalau mau merekam pakai kamera sendiri,” ujarnya. Padahal keberadaan kemera ini menjadi vital. “Bisa dilihat yang salah dimana dan harus apa,” kata Sudartawa.
Kolam renang tempat berlatih pun tidak dilengkapi dengan start block khusus. “Kami masih menggunakan start block biasa,” ujar Sudartawa. Idealnya, menurut dia, kolam renang latihan juga dilengkapi fasilitas yang sama seperti yang digunakan saat pertandingan.
Tak hanya masalah kurangnya sejumlah fasilitas yang muncul dalam persiapan tim olimpiade Indonesia ini. Persoalan anggaran pun sempat menyeruak ke permukaan. Itu lantaran dana Rp 26,6 miliar untuk pengiriman, akomodasi, dan uang saku delegasi olimpiade dan paralympic (olimpiade atlet disable) baru akan turun lima hari menjelang keberangkatan tim.
Seperti dikutip dari Media Indonesia terbitan 15 Mei 2012, Chief de Mission (CDM) Olimpiade Erick Thohir mengatakan hanya akan mengirim atlet dari cabang prioritas medali apabila dana kontingen ke London tidak kunjung cair.
Ian Situmorang, pengamat olah raga, menyoroti dana pengiriman atlet yang baru dicairkan lima hari menjelang keberangkatan. Padahal, pengurus Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) harus melakukan negosiasi tempat latihan, dan penginapan selama di London jauh hari sebelum pelaksanaan. “Sudah pasti keterlambatan dana ini membuat konsentrasi atlet dan official akan bimbang, jadi berangkat atau tidak nih?,” ujar Ian.
Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Djoko Pekik Irianto mengatakan, pencairan dana lima hari menjelang keberangkatan telah menjadi kesepakatan. “Memang regulasi untuk penarikan dana yang swakelola seperti itu. Sedangkan dana latihan sudah ada di Satlakprima karena (pencairan) bulanan,” ujar Djoko saat dihubungi Prioritas, Kamis pekan lalu.
Meski dana Rp 26,6 miliar itu belum dicairkan, Djoko mengatakan penginapan atlet selama di London tak perlu dirisaukan. “Down payment hotel beres karena saya sudah memberi hampir Rp 900 juta dari anggaran program yang belum berjalan,” katanya.
Terkait peralatan latihan, Djoko mengatakan saat ini pengadaan peralatan masih dalam proses lelang. “Dananya sudah ada. Sekarang dalam proses,” ujarnya. Meski fasilitas terbatas, para atlet tetap berupaya memberikan prestasi terbaik di olimpiade nanti. “Berharap bisa mendapat lebih,” ujar Triyatno.
21 Atlet Tim Olimpiade Indonesia
- Bulutangkis :
- Simon Santoso
- Taufik Hidayat
- Maria Febe
- Mohammad Ahsan
- Bona Septano
- Tontowi Ahmad
- Lilyana Natsir
- Greysia Polli
- Meilani Jauhari
- Renang :
- I Gede Sudartawa
- Angkat Besi :
- Jadi Setijadi
- Eko Yuli Irawan
- Muhammad Hasbi
- Triyatno
- Deni
- Citra Febriyanti
- Panahan :
- Ika Yuliana
- Anggar :
- Diah Permatasari
- Menembak :
- Diaz Kusumawardhani
- Atletik :
- Fernando Lumain
- Triyaningsih
Yekthi Hesthi Murthi I Badru Tamam Alwahdi I Bushtari Ariyanti