Kontak lensa kini bukan sekedar alat bantu penglihatan semata. Kini para penderita diabetes dapat memanfaatkannya juga.

Lensa kontak ini akan membantu dokter untuk mengecek kadar gula darah pada penderita diabetes.
Penggunaan lensa kontak di era modern sudah menjadi hal lazim untuk menggantikan fungsi kacamata. Misalnya Hani sejak pekan lalu mulai melepas kacamata yang telah setia menemaninya sejak sepuluh tahun lalu. Kini pegawai negeri sipil di sebuah kementerian itu merasa lebih nyaman menggunakan lensa kontak ketimbang kacamata.
Kini penggunaan lensa kontak bahkan semakin berkembang. Bukan lagi sebagai pengganti kacamata dan juga sarana mempercantik bola mata dengan lensa beraneka warna. Di Amerika Serikat, lensa juga dipakai sebagai pengganti jarum suntik, khususnya bagi para pengidap diabetes. Maklum para penderita diabetes ini sangat takut bila tubuhnya terluka. Bekas luka akibat suntikan akan sulit membaik seperti semula.
Akibatnya para penderita diabetes takut terhadap jarum suntik. Padahal bagi penderita diabetes suka tak suka harus bertemu jarum suntik untuk mengetahui kadar gula darah. Sejatinya banyak cara untuk memeriksa penyakit tanpa rasa sakit. Termasuk bagi mereka yang takut terhadap jarum suntik.
Adalah Jun Hu, profesor Kimia dari Universitas Akron menemukan metode baru dan bisa jadi alternatif untuk mengetahui kadar gula darah. Hu memanfaatkan lensa kontak yang lazim dipakai sebagai alat bantu pengelihatan untuk mendeteksi kadar gula darah. Berdasarkan penelitian, cairan alami pada mata mengandung glukosa sehingga bisa dipakai untuk mengukur kadar glukosa di tubuh.
Pengukuran glukosa lewat kontak lensa penggunaannya tak jauh berbeda dengan kontak lensa sebagai alat bantu pengelihatan. Hanya saja lensa kontak tersebut berwarna bening, bukan lensa dengan berbagai warna dan corak seperti lensa kontak biasa.
Hu menjelaskan lensa kontak akan berubah warna ketika ditempelkan pada mata. Terutama jika lensa kontak mendeteksi adanya kenaikan kadar gula darah dalam tubuh. Menurutnya cara kerja lensa kontak ini persis sama sepeti penggunaan kertas lakmus yang menjadi indikator pengukuran asam dan basa alias pH di laboratorium. “Molekul gula akan bereaksi sama seperti proton dalam tes pH, sehingga warna lensa pun berubah,” kata Hu.
Namun si pengguna tak bisa melihat langsung perubahan warna yang terjadi pada lensa kontak. Pengguna harus melihat ke cermin untuk melihat reaksi yang dihasilkan dari lensa kontak pendeteksi diabetes tersebut.
Sama sekali tak ada rasa sakit bagi pengguna lensa ini. Menurut Hu ini merupakan cara paling nyaman bagi mereka yang alergi terhadap jarum suntik. Bahkan penderita diabetes bisa memonitor setiap saat naik turunnya kadar gula darah. “Saat ini baru tersedia prototype-nya,” imbuhnya.

Perubahan bola mata setelah lensa kontak bekerja memeriksa kondisi gula darah
Baru tiga tahun mendatang para peneliti menjanjikan lensa kontak dapat diproduksi secara masal. Hanya saja belum dipastikan perubahan warna akibat reaksi lensa kontak tersebut cukup aman bagi mata.
Sebagai penunjang, peneliti juga sedang merancang aplikasi dalam smartphone yang bisa mengambil gambar mata dan secara otomatis menghitung kadar gula darah. Cukup menggunakan kamera pada smartphone.
Menurut dia perangkat tersebut bisa digunakan untuk mendeteksi perubahan terkecil kadar gula darah penderita. Sehingga penderita diabetes dapat mengetahui kondisinya secara lebih teratur. Bahkan lanjut teknologi ini dapat pula mendeteksi perubahan paling kecil dari kadar gula darah. Diagnosa ini sangat berguna bagi mereka yang rentan terhadap penyakit ini.
Fadila Fikriani Armadita | berbagai sumber