impresario

Membingkai Satwa Dalam Lensa

Alain keluar masuk hutan di Indonesia untuk mengabadikan binatang liar. Ingin mendirikan lembaga yang serius melakukan penyelamatan alam.

Videografer wild life Alain Compost, adalah seorang warga negara Perancis yang giat membuat film dokumenter mengenai satwa-satwa yang dilindungi bahkan hampir punah di Kepulauan Indonesia, Rabu (07/06).

Ruang yang didominasi warna putih itu berukuran sekitar 5×7 meter. Sebuah kamera yang ditopang kaki tiga terpasang kokoh di depan kaca jendela besar di salah satu dindingnya. Di sisi yang lain, beberapa lensa kamera tampak tersusun rapi di dalam lemari.

Itu adalah secuplik suasana dari ruang kerja Alain Compost di rumahnya di Jalan Babakan, Desa Palasari, Bogor, Jawa Barat. Bagi sejumlah pecinta alam liar, nama Alain sudah tak asing lagi. Pria berkebangsaan Prancis ini dikenal sebagai fotografer yang kerap mengabadikan tingkah aneka binatang liar.

Kedekatan Alain pada satwa bermula selepas dia menyelesaikan sekolahnya di Magny Cours Agriculture School, Nevers, Prancis. Ketika itu, ia sempat bekerja sebagai penjaga di kebun binatang. Karena pekerjaannya tersebut, ia berkesempatan mempelajari kepribadian binatang, termasuk satwa liar.

Adapun ketertarikannya dengan dunia fotografi berawal dari banyaknya fotografer yang datang ke tempatnya bekerja untuk mengabadikan binatang.

Mereka sering meminta dia mengarahkan binatang atau membantu pemotretan. Lantas, berbekal dari kamera milik direktur kebun binatang tersebut yang dijual murah kepada dia, Alain mulai belajar teknikteknik fotografi secara ototidak.

Ketika mendapat tawaran bekerja sebagai fotografer sebuah majalah untuk dikirim ke Asia, ia pun tak melewatkan kesempatan itu. Di antara negara yang dikunjungi adalah Indonesia. Laki-laki berkepala plontos tersebut menjejakkan kaki pertama kali ke negeri ini 37 tahun silam. Saat itu, sebagai fotografer Paris Match Magazine, ia mendapat tugas mengabadikan rehabilitasi orang utan di Sumatera Utara. “(Ketika itu) hutan dan satwa-satwa eksotis Indonesia masih belum banyak terjamah fotografer,” ujar Alain ketika ditemui Prioritas di rumahnya, Selasa dua pekan lalu.

Sejak saat itu, Alain terus memburu satwa-satwa liar dari hutan ke hutan untuk mendapatkan foto yang bagus. “(Medan) hutan di Indonesia lebih susah dari Afrika,” ujar pria yang lahir pada 18 Mei 1952 ini. Namun kini, Alain prihatin dengan kondisi hutan Indonesia. “Dari tahun 1975 hingga sekarang mungkin sudah 30 persen lebih tingkat kerusakan hutannya,” ujar Alain. Akibatnya, “Satwa semakin langka karena habitatnya rusak.”

Kerusakan itu di antaranya lantaran pembabatan hutan untuk lahan perkebunan sawit yang marak terjadi di era 80-an. Ia menyayangkan, saat pembabatan hutan itu terjadi tidak ada lembaga yang peduli. “Sekarang saat kerusakan alam menjadi isu penting baru mereka meributkan,” kata Alain dengan nada tinggi.

Alain semakin geram ketika muncul lembaga swadaya masyarakat yang mengklaim peduli lingkungan, tapi hanya memanfaatkan kemampuannya mendokumentasikan satwa liar. Video dokumenter yang dibuat hanya digunakan untuk mendapatkan dana dari sejumlah perusahaan. “Dana yang didapat hanya sebagian kecil untuk penyelamatan hutan, sebagian besar digunakan untuk menggaji karyawannya,” ujarnya.

Sejak itu, ia enggan menerima tawaran proyek dokumentasi dari lembaga yang sekadar mengumpulkan dana tanpa berbuat serius untuk menghentikan kerusakan alam. “Saya tidak mau bekerja pada perusahaan yang hanya memanfaatkan alam untuk mendapatkan keuntungan yang mereka inginkan,” ujar bapak empat anak ini.

Dalam menggarap proyek dari perusahaan swasta dalam dan luar negeri maupun pemerintah, Alain juga tidak mau hanya sekadar membuat video sesuai pesanan. “Saya juga diangkat menjadi penasehat dalam proyek penyelamatan alam ini, jadi mereka banyak bertanya kepada saya apa yang seharusnya dilakukan,” ujarnya.

Menurut laki-laki yang bercitacita mendirikan lembaga untuk menyelamatkan alam ini, pekerjaan sebagai fotografer satwa bukan berarti tanpa risiko. Ketika dia mendokumentasikan simpanse betina di kebun binatang tempatnya bekerja misalnya, simpanse jantan merasa cemburu dan menyerang Alain. Waktu itu tangan dan bokong Alain digigit hingga menyisakan bekas luka sampai sekarang. “Karena peristiwa itu saya dapat asuransi tapi saya gunakan untuk membeli alat fotografi lagi,” ujarnya sambil tertawa.

Yekthi Hesthi Murthi | Bushtari Ariyanti