fokus

Menak Sopal Bukan Durna

Saya tak pernah menyangka jika pekan lalu berkesampatan singgah di Trenggalek, sebuah kota di Jawa Timur. Pemberitaan dan kabar yang kerap saya terima dari banyak kawan, kota ini selalu dihubung-hubungkan dengan cerita kekurangan pangan. Banyak desa yang penduduknya menjadikan gaplek sebagai makanan pokok, dilaporkan sedemikian rupa sehingga mengesankan ada kemiskinan akut sedang melanda Trenggalek.

Profil geografis Trenggalek yang dikelilingi perbukitan dan terpisah-pisah memang sempat menyandera saya bahwa daerah ini agak terbelakang. Naik mobil mengelilingi pusat kota hanya membutuhkan waktu kurang dari seperempat jam. Ditambah dengan masih banyaknya rumah penduduk yang belum berbau semen, kesan adanya kemiskinan memang tak bisa dipungkiri. Tapi tentu tidak arif jika menuding sebuah daerah itu miskin hanya lewat pendangan sesaat.

Anehnya, tiap bertamu ke rumah penduduk di pelosok Trenggalek, ada spirit berbinarbinar. Mereka bangga menjadi keturunan Menak Sopal, seorang pemimpin awal Trenggalek yang berhasil melakukan revolusi agraris dengan membuat bendungan. Bendungan itu hingga kini dikenal sebagai Dam Bagong. Adanya irigasi terkelola itu membuat Trenggalek lepas dari kefakiran pangan.

Cerita ini semakin membuat saya yakin bahwa kalau toh memang penduduk Trenggalek sedang mengalami situasi ekonomi agak susah, tentu bukan akibat tak mampu menaklukkan alam. Tapi lebih karena salah urus. Pemerintah daerah tidak paham prioritas, apa yang paling utama dibutuhkan masyarakat. Potensi pertanian, hutan, laut, dan kekayaan alam seharusnya menjadi landasan utama membangun Trenggalek. Tidak perlu terpengaruh tren industrialisasi yang sama sekali bertolak belakang dengan kearifan alam daerah eksotik ini.

Untuk mengerti apa yang dibutuhkan masyarakat, sosok Menak Sopal sepertinya harus dihidupkan lagi. Daerah tertinggal seperti Trenggalek biasanya justru menyimpan potensi politik yang luar biasa. Kekerasan alam cenderung membuat penduduk bergairah mengubah nasib lewat gerakan politik. Tentu itu sah-sah saja.

Masalahnya, para pemimpin yang muncul dari pergulatan seperti ini punya kecenderungan seperti Resi Durna, tokoh antagonis dalam mitologi pewayangan. Sang pemimpin merasa hebat karena menganggap masyakarat yang dipimpinnya terbelakang. Durna pun demikian. Meskipun menjadi guru bagi Pendawa dan Kurawa, ketika harus berhadapan di kurusetra, Durna cenderung mendukung Kurawa. Kesamaan watak jahat membuat Durna cenderung beraliansi dengan Kurawa.

Pemimpin seperti Durna hanya akan membuat lahirnya banyak Brutus, senator Republik Roma yang memimpin persekongkolan membunuh Julius Caesar. Sedikitnya 30 tusukan menghunjam tubuh sang kaisar. Manajemen menghasut ala Durna amat mudah membuat orang saling tikam seperti cara yang dianut Brutus. Kawan seperjuangan sekalipun, jika mengancam kepentingan pribadi seolah-olah pantas dibunuh.

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, pikiran saya dihantui bayangan Menak Sopal, pemimpin revolusi agraris Trenggalek. Tanpa manuver politik dan menusuk kawan seiring, dia baktikan hidupnya semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. Dia makan dan kelaparan bersama rakyat, hidup dan matipun bersama rakyat. Hatinya dia kosongkan dari siasat-siasat hampa untuk melanggengkan kekuasan. Tanpa dia minta, sekian ratus tahun kemudian orang masih membanggakan namanya.