budaya

Kisah tentang Dilema Air

Indonesian Dance Festival 2012 memilih Payau #2 Waterproof sebagai main performance. Kolaborasi tari, fotografi, dan instalasi yang berkisah tentang dilema Jakarta tentang air.

Pertunjukan tari bertajuk Payau #2-Waterproof di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta, Senin (4/6).

Bak akar pohon, ratusan selang dan pipa air menjalar di sana-sini. Tampak merambat, ber gelantungan, dan begitu semrawut di sisi kanan-kiri bangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang kumuh. Selang dan pipa warna-warni seperti berlomba menyembul di antara timbunan sampah di sekitar bangunan kusam rusunawa.

Bagi yang tak pernah melihat rusunawa di Jakarta pemandangan seperti ini mungkin terasa asing, tetapi tidak bagi para penghuninya. Saban hari mereka terbiasa berjibaku dengan pipa, selang, gunungan sampah yang tengik untuk sekedar memperoleh segalon air. Sesekali mereka harus menunggu lama untuk menampung air dalam drum-drum, terutama saat mesin pompa ngadat.

Pemandangan kumal rusunawa di salah satu sudut Jakarta itu hadir dalam Gedung Teater Luwes, Insitut Kesenian Jakarta, Senin pekan lalu. Bertajuk Payau #2 Waterproof, kolaborasi koreografer Yola Yulfianti bersama karya foto dan instalasi Unank Ramdani menjadi potret buram atas ruwetnya masalah air di Jakarta.

Terpilih sebagai main performance dalam Indonesian Dance Festival 2012, Payau pernah dipentaskan tahun 2004, berjudul Seperti Layaknya Air, sebagai tugas akhir Yola di Program Studi Sarjana Seni Tari IKJ. Dalam Payau #2, seabrek perangkat baru berikut improvisasi membuat pertunjukan ini lebih ciamik karena selain berkolaborasi dengan bidang lain, ditemukan banyak pengembangan ide. “Kalau yang pertama adalah proses penemuan ide, metode, dan gaya koreografi,” tutur Yola usai pementasan.

Masalah air yang membekap penghuni rusunawa dan warga Jakarta pada umumnya, mempertemukan Yola dan Unank. Unank menjepret realitas rusunawa di Penjaringan, Jakarta Utara, setahun silam di mana air sangat sulit didapatkan. Pembagian air ke setiap penghuni juga dilakukan dengan cara yang amat merepotkan.

Terangkum dalam karya “Berebut Air di Rusunawa,” jepretan Unank ini berhasil mengusik Pemerintah Jakarta, sehingga distribusi air di Rusunawa Penjaringan kini sudah lebih baik, dan pemandangan semrawut itu nyaris tak lagi dijumpai.

Kolaborasi tari, yang merupakan bagian disiplin seni murni, dengan karya fotografi dan instalasi dalam Payau 2# bercerita ihwal masalah utama Ibukota Jakarta tak hanya semrawut akibat kemacetan jalanannya, masalah air juga mengancam warganya. Tak hanya di musim kemarau, bahkan di hari-hari biasa banyak warga kesusahan mendapatkan air bersih. Banjir menjadi momok menakutkan saat curah hujan meninggi. Sehingga nyaris tak ada impresi positif warga Jakarta tentang air.

Karya gubahan ini mencoba mengusik kesadaran penghuni Jakarta ihwal air sebagai salah satu masalah utama. Yola mencoba merefleksikan begitu ruwetnya tinggal di Jakarta, dan ia tak ingin muluk-muluk menyampaikan pesan itu, “cukup dari yang menonton, dimulai dari kita saja,” katanya.

Demi memboyong suasana rusunawa ke atas panggung, Unank dan Yola bekerja keras selama tiga bulan. Dibantu wartawan senior Seno Joko Suyono sebagai produser, para kru intensif latihan tiap hari sebulan terakhir. Instalasi selang sepanjang 2000 meter yang dibuat berantakan dan menyebar, diambil Unank dari Rusunawa Penjaringan. Diminta dari rumah ke rumah, dengan kompensasi selang baru.

Salah satu adegan tari dalam Payau #2-Waterproof.

Gerak tubuh para penari mencoba menyuguhkan karakter warga Jakarta yang berusaha menyampaikan kisahnya tentang air. Koreografer percaya para penarinya punya pengalaman pribadi berhubungan dengan air. Pengalaman ini harus dimunculkan kembali karena menari bukan hanya menunjukkan estetika gerak tubuh, tapi juga mengungkapkan pengalaman dalam bentuk yang murni dan jujur.

Dalam suasana berantakan itu pula, dengan genangan air, pementasan serasa memberi pori-pori dan ruang di mana orang bisa menjadi jernih, bebas, dan mandiri. Orang bisa mencari peluang-peluang untuk bisa menjadi bebas, mandiri, jernih meskipun di dalam ruang-ruang yang berantakan. “Saya begitu terbawa dalam pementasan tadi karena merasakan suasana itu. Saya baru sekali melihat bentuk yang optimum seperti ini,” puji koreografer tari terkemuka, Sardono W Kusumo.

Suasana pementasan yang tak biasa menjadikannya istimewa. Menyaksikan Payau #2 Waterproof, anda harus hati-hati melangkah memasuki ruang pertunjukan. Tak waspada kirikanan, kaki akan tersandung selang yang ruwet dan berantakan. Di sisi tempat duduk tertumpuk bongkahan meja lapak berdiri miring dan terbalik, besi tua, dan segala macam benda keras. Termasuk tumpukan jerigen kosong. Bahkan, di dekat pintu utama menggantung handukhanduk lusuh.

•Anom B Prasetyo