Tak hanya surga bagi pecinta pantai, Belitung juga mampu memanjakan pengunjungnya dengan cita rasa makanan yang khas. Perlu jasa biro perjalanan agar tak kecewa.

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung Barat.
Langit mendung dan angin menyambut kedatangan kami sore itu di Bandara HAS Hananjoeddin, Belitung. Bandara kecil yang hanya melayani enam penerbangan dalam sehari itu terletak di Tanjung Pandan Kabupaten Belitung Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hanya ada dua Kabupaten di Pulau Belitung: Belitung Barat dan Belitung Timur. Di Belitung Barat, jantung kehidupan terletak di Tanjung Pandan sedangkan di Belitung Timur, pusat kegiatan terletak di Manggar. Tanpa membuang waktu kami langsung menuju Pantai Nyiur Melambai di Manggar.
Dari bandara, perlu waktu sekitar 50 menit untuk sampai ke Pantai Nyiur Melambai. Pantai ini hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi atau sewa, sebab kendaraan umum hampir dibilang tidak ada. Pelancong bisa menyewa mobil di bandara atau biro perjalanan. Bagi pelancong yang baru pertama menginjakkan kaki di tanah Belitung, sebaiknya menggunakan jasa biro perjalanan dari daerah asal agar puas menikmati pesona daerah penghasil timah ini.

Pantai Tanjung Kalayang, Belitung Timur.
Perjalanan ke pantai ini sedikit membosankan. Pasalnya sepanjang perjalanan yang ada hanya semaksemak, hutan dan tambang timah. Rumah penduduk sangat jarang. Dalam setiap perkampungan paling hanya ada 20 rumah. Namun rasa jenuh ini akan lunas seketika begitu mobil tiba di pantai.
Deretan pohon kepala melambai mengantarkan angin sore menyambut kedatangan kami. Bangku-bangku taman berderet rapi menawarkan kenyamanan bagi siapa saja yang mendudukinya. Di laut ombak beriak tenang, silih berganti menghempaskan diri ke bibir pantai yang berpasir putih. Pemandangan ini kontan membuat syaraf-syaraf yang tadinya tegang, lemas seketika. Tapi sayang, pantai ini terletak di timur sehingga pengunjung tak bisa melihat matahari terbenam (sunset).
Memang waktu paling afdol untuk berkunjung ke pantai Nyiur Melambai adalah pagi hari. Anakanak muda Manggar yang tengah menghabiskan sisa sore di pantai mengatakan sunrise di tempat ini sangat mempesona.
Lelah di pantai, kami bergerak menuju pusat keramaian Manggar. Jaraknya tidak jauh, hanya 5 kilometer dari pantai. Ketika malam hari, tempat ini penuh dengan kedai kopi. Area seluas lapangan basket, kedai kopinya bisa lebih dari 20. Biasanya kedai-kedai ini ramai dikunjungi setelah solat isya. Banyaknya kedai membuat daerah ini dujuluki Kota 1001 Kedai Kopi.

Kedai Kopi di Manggar
Ada cerita, kedai bukan hanya sekedar tempat menikmati kopi, tapi tempat untuk bertukar informasi. Karena itu tak heran, warga Manggar banyak menghabiskan waktu senggangnya di kedai. Sambil menghirup kopi hitam khas Belitung, Kopi O, pengunjung saling bertukar cerita, baik lokal maupun nasional. Uniknya, setiap kedai kopi memiliki resep racikan tersendiri. Bila Anda penikmat kopi, Anda tidak akan pernah bisa menemukan rasa kopi yang sama di kedai yang berbeda. Untuk segelas Kopi O, harganya Rp 3000 saja. Keramaian di kedai kopi umumnya berakhir pukul sebelas malam.
Tak hanya kopi, Belitung juga memiliki cita rasa tinggi dalam soal makanan, khususnya hidangan seafood. Di sebuah tempat makan sederhana di Manggar, tersedia menu ikan Gangan dan ikan Ilak Bakar Kecap. Ikan gangan merupakan semacam gulai dengan kuah yang tidak kental dan berwarna kuning karena di dominasi kunyit dan lengkuas. Ikan gangan adalah menu khas Belitung yang tidak bisa dijumpai di daerah lain. Ketika mencicipi ikan ini, rasa nikmat langsung mengguyur lidah. Begitu juga saat menyantap ikan ilak bakar kecap. Daging ikannya begitu lembut, tapi kenyal dan tidak rapuh. Rasanya gurih. Ketika mencoba ikan ilak dengan bumbu kuning, rasa dagingnya tetap gurih. Puas disapu angin laut dan perut kenyang, kami memutuskan ke salah satu desa bernama Gantung untuk beristirahat.
Belitung Barat
Puas mencecap eksotisme Belitung Timur, di hari berikutnya kami berburu pemandangan indah ke Belitung Barat. Di kabupaten ini kami langsung mengarahkan tujuan ke Pantai Tanjung Tinggi. Untuk menuju pantai paling popular di Belitung ini, dari Gantung, perlu waktu sekitar satu jam.
Kami tiba di pantai ketika matahari tepat di atas kepala. Cuaca begitu cerah, ombak beriak tenang hingga membuat pantai terlihat jernih. Warna hijau di daerah dangkal dan biru di daerah dalam terlihat begitu jelas di mata. Di sisi kanan kiri, batu-batu vulkanik berukuran raksasa seolah membentengi pantai. Seperti Pantai Nyiur Melambai, di Pantai Tanjung Tinggi juga terdapat banyak warung yang menjual kelapa hijau. Namun rasa kelapa di pantai ini lebih manis dengan daging buah yang cukup tebal. Meski matahari terik, tapi air laut terasa dingin dan sejuk.
Selain Tanjung Tinggi, Belitung barat juga memiliki Pantai Tanjung Pendam. Di pantai ini kita bisa menyaksikan detik-detik matahari terbenam setiap sore. Belitung Barat juga memiliki makanan khas yakni Mie Belitung. Berbeda dengan mie-mie yang pernah kami jumpai, Mi Belitung rasanya manis, asin dan gurih. Setelah seharian berkelana, kami kembali ke Gantung untuk beristirahat.
Pasir Tepung di Pantai Tambak
Dari Bukit Batu kami meluncur ke Pantai Tambak, sebuah pantai yang baru di buka di pesisir timur Belitung. Berbeda dengan pantai lain yang banyak ditumbuhi pohon kelapa, di pantai ini terdapat banyak pohon cemara. Keunikan yang lain, tekstur pasir mirip seperti tepung terigu, lembut tapi juga bercampur dengan pasir bertekstur beras. Warna putihnya terlihat lebih cerah dibandingkan dengan pasir di pantai lain. Di tempat ini juga banyak kedai kelapa hijau. Kelapa hijau disini rasa airnya agak asam dan daging buahnya tipis, lembut dan manis. Pantai lainnya yang harus disinggahi adalah Pantai Modong. Pantai ini unik karena pasirnya sedikit dan kedalamannya tidak berubah meskipun kita berada di jarak lebih 150 meter dari pantai. Kebanyakan orang yang datang ke pantai ini untuk berendam.
Vihara di Atas Bukit
Selain pantai, Belitung juga memiliki tempat wisata menarik yakni Vihara Burung Mandi. Letaknya di sebuah bukit yang menghadap langsung ke laut di daerah Burung Mandi, Belitung Timur. Suasana tenang dengan udara sejuk membuat umat yang bersembahyang khusuk.
Mengapung di Pantai Bukit Batu
Kami ke Pantai Bukit Batu karena penasaran oleh cerita penduduk sekitar. Mereka menuturkan kadar air pantai ini cukup tinggi, sehingga saat ombak tenang kita bisa mengapung di atas air sekalipun tidak bisa berenang. Mirip seperti Laut Mati yang terkenal. Benar saja, cerita itu ternyata bukan mitos belaka. Ketika kami menceburkan diri ke laut dan dengan posisi tubuh menghadap ke atas, tubuh kami langsung terangkat ke permukaan tanpa perlu melakukan gerakan renang. Pantai ini juga menyimpan pesona lain berupa pemandangan yang di dominasi batubatu vulkanik seperti di Pantai Tanjung Tinggi. Hanya saja ukuran batu di pantai ini lebih kecil dibandingkan dengan di Pantai Tanjung Tinggi. Pasir putih tetap menjadi bagian dari semua pantai di Belitung.
Andhika Adityas Nugroho