iptek

Memupuk Harapan Suburkan Lahan

Lewat sentuhan Sukartono lahan tandus kembali subur. Para petani bisa menanami kembali lahan mereka.

Hamparan serba hijau membentang di Hutan Universitas Indonesia, Depok. Tak perlu berton-ton pupuk untuk membuat tanaman di situ menghijau dan tegar menantang langit. Memang lahan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa terkenal akan kesuburannya. Namun tak semua tanah bisa menghasilkan pepohonan hijau.

Beberapa daerah di luar Jawa seperti Kalimantan memiliki kondisi lahan gambut yang kurang subur. Begitu pula sebagian lahan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat memiliki lahan kering dan berpasir.

Harapan warga Lombok Utara mencuat setelah seorang mahasiswa Program Doktoral Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Sukartono, berhasil menemukan teknologi Biochar. Pemanfaatan teknologi tersebut untuk membenahi persoalan kesuburan tanah di lahan kering berpasir.

Biochar ini suatu tipe arang atau bahan yang mengandung karbon tinggi yang dihasilkan dari proses pemanasan biomassa organik (pyrolisis) pada kondisi oksigen terbatas atau bahkan tanpa oksigen. Biochar ditambahkan ke dalam tanah berpotensi sebagai pembenah kesuburan tanah.

Menurut Sukartono sistem pertanian di lahan kering-tropik memiliki masalah dalam rendahnya kualitas kesuburan tanah. Rendahnya nilai variabel kesuburan tanah tersebut pada gilirannya bermuara pada tidak optimumnya capaian produktivitas tanaman. Seperti di daerah Lombok Utara yang menjadi daerah penelitiannya dengan areal sekitar 38.000 hektar dan baru 30 persen yang dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan khususnya jagung dan ubi kayu.

”Penggunaan Biochar sebagai suatu opsi selain sumber bahan organik segar dalam pengelolaan tanah untuk tujuan pemulihan dan peningkatan kualitas kesuburan atau lahan pertanian kritis,” ujarnya, Rabu pekan lalu.

Sejatinya Biochar dapat diproduksi dari berbagai jenis limbah organik. Sukartono berusaha menggunakan potensi lokal yang ada sehingga menggunakan limbah tempurung kelapa dan kotoran sapi yang banyak di temukan di kabupaten Lombok Utara.

Biochar tempurung kelapa dibuat dengan pembakaran dalam lubang tanah dengan ukuran panjang 1,5 meter, lebar dan dalam 1,0 meter. Sementara untuk Biochar kotoran sapi dibuat dengan memanaskan kotoran sapi dengan kadar air 15% dalam drum berukuran diameter 56 centimeter (cm) dan tinggi 42 cm, pada tungku berkontruksi batu bata berukuran panjang 120 cm, lebar 70 cm dan tinggi 40 cm. Setelah itu hasil biochar diayak untuk mendapatkan uku ran partikel 1,0 mm.

“Kandungan karbon (C) Biochar tempurung kelapa dan kotoran sapi potensial untuk dijadikan pembenah bagi tanah terdegradasi atau tanah kritis,” ungkapnya.

Sukartono pun melakukan percobaan lapangan selama tiga musim tanam jagung di stasiun penelitian universitas Mataram, sejak November 2010 hingga Oktober 2011. Hasil dari penggabungan tersebut terjadi perbaikan status kesuburan tanah dengan aplikasi Biochar dicerminkan juga oleh meningkatnya serapan unsur hara lalu pertumbuhan dan hasil biji jagung serta efisiensi pemakaian air tanaman.

Biochar lebih efektif digunakan, karena aplikasi Biochar mampu meningkatkan kandungan C-organik tanah khususnya pada lapisan 0-10 cm. Disamping itu, aplikasi pada biochar lebih efektif digunakan karena pelapukan atau dekomposisinya sangat lambat dan bertahan lama dibandingkan dengan bahan organik segar seperti kompos dan pupuk kandang.

“Kedepannya saya ingin memproduksi kompos yang menggunakan biochar sebagai bulking agent-nya, jadi ketika diaplikasikan ke tanah dapat stabil dalam waktu lama,” kata Sukartono.

Dengan ditemukannya Biochar ini maka lahan kering berpasir bisa menjadi lahan potensial untuk menanam berbagai macam tanaman bernilai ekonomis. Para petani lahan kering tak sekedar berharap namun bisa segera menyuburkan lahan tandus mereka.

Rizkita Sari