fokus

Hipokrit

Hiruk-pikuk kota-kota di sekitar New York pada 17 Maret 2008 seperti terhenti ketika Eliot Spitzer, sang Gubernur Negara Bagian paling keras di Amerika itu mundur dari jabatannya. Spitzer dituding terlibat skandal prostitusi dengan seorang perempuan penjaja seks komersial bernama Ashley Alexandra Dupre yang populer dipanggil Kristen.

Spitzer mengambil langkah mundur dan tak pernah menjelaskan peristiwa tabu yang berhasil dibongkar di Mayflower Hotel, Washington. Publik Amerika Serikat menerima mundurnya Spitzer sebagai langkah pertanggungjawaban moral.Seorang pemimpin seharusnya tidak serampangan melakukan tindakan tercela. Meskipun bisa mengelak dengan berbagai alibi, dia memilih menebus kesalahannya dengan meninggalkan panggung politik.

Langkah Spitzer mundur membuat sebagian besar publik Amerika angkat topi. Pada zaman dimana orang bisa membalik kesalahan menjadi kebenaran, sang Gubernur memilih pergi. Memilih untuk tidak terjebak menjadi seorang hipokrit: berpura-pura moralis tapi perbuatannya tidak mencerminkan pemimpin yang bisa menjadi panutan alias munafik.

Di negeri ini, hampir semua sendi kehidupan sudah penuh sesak dengan kaum hipokrit. Tingkah laku berbau kemunafikan menjadi kelaziman. Tidak ada keterusterangan, tak ada kejujuran, tak ada keterbukaan. Pendek kata, hipokrit melanda seluruh sektor kehidupan.

Ketika ada gerombolan serdadu TNI/Polri memukuli wartawan misalnya, komandannya buru-buru mengatakan pelakunya adalah oknum. Mengapa tidak mengakui saja bahwa tindakan itu dilakukan akibat ketidakmampuan komandannya memimpin anak buah. Atau bilang saja telah terjadi degradasi kepatuhan sehingga serdadu bertindak semaumaunya sendiri.

Tiap kali ada aparat keamanan terlibat kejahatan –entah jadi bandar narkoba, beking perjudian, merampok, memperkosa, penggelapan plat nomor kendaraan, menjarah hutan– selalu dibilang yang melakukan adalah oknum. Tidak pernah ada sikap ksatria dan mengakui kesalahan di hadapan publik.

Masyarakat yang seharusnya mereka lindungi tak mendapat rasa keadilan ketika mereka menjadi korban aparat keamanan. Jiwa keprajuritan yang penuh dengan jiwa besar telah musnah, tergeser oleh jiwa hipokrit. Di ranah birokrasi, pemerintahan, dan partai politik juga sama saja. Pegawai dan kader partai yang melakukan kesalahan, korupsi, dan melakukan kejahatan criminal justru dilindungi. Penuntasan kasus diulurulur, hukum dimain-mainkan hingga akhirnya lolos dari jerat hukum.

Virus hipokrit juga merambah masyarakat. Rakyat mengalami krisis kepercayaan pada gerakan politik. Alhasil, mereka apatis pada politik. Jika ditawari bergabung ke sebuah partai politik, persetujuannya hanya berdasarkan uang. Jika ada partai lain yang juga memberi uang, dengan enteng melaju ke partai lain.

Memang tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi ganasnya penyakit hipokrit harus dilawan jika tidak ingin negeri ini hancur. Dan melengserkan para pemimpin hipokrit adalah salah satu cara melawannya, ketika tidak ada yang bersikap seperti Spitzer.