Buah impor merajai perdagangan buah dalam negeri. Murah dan mudah didapat tapi berisiko menyebabkan kemandulan dan mengganggu kesehatan.

Pedagang buah memilah buah impor asal Cina di kiosnya Pasar Jatinegara, Jakarta, Kamis (24/5).
Lima gerobak kayu berjejer rapi di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Aneka macam buah menumpuk di atas gerobak yang tampak lusuh dimakan cuaca. Buahbuahan tersebut ditata menyerupai rak agar pembeli mudah memilih. Yogi, 40 tahun, salah satu penjual buah di terminal ini. Ia sudah berjualan sejak 20 tahun lalu. Beragam buah yang ia jual ada anggur, apel, kelengkeng, jeruk, salak dan pir. “Semuanya buah impor,” Yogi menjelaskan. Menurut dia, buah impor lebih banyak dibanding buah lokal. Begitu juga, pembeli lebih memilih buah impor dibanding lokal.
Pernyataan Yogi diamini seorang pembeli, Sri Retnoningsih, 59 tahun. Menurut Sri, dia lebih suka mengonsumsi buah impor dibanding buah lokal karena mudah ditemui dan lebih beragam. Meski demikian, Retno mengaku khawatir dengan keamanan buah tersebut. “Khawatir karena sekarang lagi ada berita tentang buah yang mengandung pengawet. Tapi mau bagaimana lagi kalau mau apel adanya impor. Jarang ada yang lokal, giliran ada mahal,” keluhnya.
Pakar keamanan pangan dan gizi Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Ahmad Sulaeman mengatakan, hasil kajian IPB memperlihatkan buah impor bisa mengancam kesehatan karena diduga mengandung pestisida, lilin, dan sejumlah bahan berbahaya. “Karena produksinya besar dan tujuannya ekspor, mereka simpan di ruang pendingin. Seperti saya temukan di Rotterdam, buah yang disimpan ada yang berumur 6 bulan sampai 2 tahun,” papar Ahmad. “Buah-buahan itu biasanya dilapisi lilin untuk mencegah penguapan. Karena kalau tidak dicegah bisa keriput.”
Proses pengawetan ternyata tidak hanya menggunakan lilin, tapi juga menggunakan semacam fungisida untuk membunuh jamur yang ada di dalam buah. “Saya menemukan penggunaan zat pengawet vincozilin. Beberapa laporan penelitian menyebutkan vincozilin bersifat anti androgenic atau anti hormon sepertiDDT(Dichloro-Diphenyl- Trichloroethane) yang sudah lama dilarang,” ujar pria asal Sukabumi, Jawa Barat ini. Menurutnya, residu zat tersebut jika dikonsumsi akan mengganggu sistem reproduksi yang bisa menyebabkan kemandulan, kecenderungan transeksual dan sektor lain yang terkait kesehatan. Untuk itu Ahmad meminta pemerintah mengawasi secara ketat keamanan buah impor sebelum masuk ke Indonesia.
Di tanah air, harga buah impor memang jauh lebih murah dibanding buah lokal. Ini karena buah-buah pengandung racun itu sangat bebas masuk ke Indonesia. “Saya pernah ikut seminar di Den Haag tentang saving fruity standart. Mereka ada ketentuan, kalau ada produk pertanian atau makanan yang tidak memenuhi standar kemanan pangan di negeri asalnya di Eropa, bisa dikirim ke negara lain yang belum punya sistem keamanan pangan. Tak heran disini harganya murah karena memang di negara asalnya tidak layak dimakan.,” tandas guru besar IPB tersebut.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sependapat dengan Ahmad. Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, tak ada informasi terkait keamanan buah impor untuk konsumen. Bahkan, lanjut Tulus, pemerintah cenderung mengabaikan hal tersebut. Sebaliknya pemerintah membuka pintu lebar-lebar untuk masuk nya buah impor. Atas alasan ini, Tulus mendesak pemerintah segera membuat regulasi dan pengawasan yang ketat terkait buah impor.
Sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab, Kementrian Pertanian membantah bahwa buah-buah yang masuk ke Indonesia tak terjamin keamanannya. Menurut Direktur Pemasaran Domestik Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian, Mahpudin, sebelum masuk ke Indonesia buah-buah tersebut melalui proses pemeriksaan terlebih dulu. “Setiap komoditas pertanian harus lewat uji. Hal ini dilakukan untuk menghindari masuknya hama pandan penyakit ke Indonesia,” ujar Mahpudin. “Intinya kalau ada barang masuk di pelabuhan, diperiksa dan dikarantina setiap waktu.”
Bantahan juga disampaikan Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (Assibisindo). Ketua Assibisindo Kafi Kurnia mengatakan, Indonesia hanya membeli barang-barang premium berkualitas tinggi, karena orang Indonesia mementingkan kualitas dan tidak mau mengambil risiko. Masih kata Kafi, buah tersebut juga dikonsumsi oleh orang di negara lain. “Kalau buah itu berbahaya, negara lain sudah teriak,” ucap Kafi. Selama ini Indonesia mengimpor buah dari 22 negara.
Mustakim | Rubayyi Astari | Agus Hariyanto