pendidikan

Mengais Ilmu di Kampung Pemulung

Siswa belajar di antara tumpukan barang bekas dan bau kotoran hewan ternak yang menyengat. Tetap semangat demi mengubah hidup menjadi lebih baik.

Sanggar Pendidikan Al-Hakim di Gang Mawar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Duduk di lantai tanah yang tertutup karpet dan plastik, 13 bocah itu tampak riang. Sambil memegang pensil dan buku, sesekali mereka berpindah tempat duduk. Mereka, rata-rata berusia 4 – 8 tahun, tidak takut meskipun seorang guru tengah menjelaskan materi pelajaran. Suasana ini terlihat hampir setiap kelas berlangsung. Guru mengajar dan anak-anak menyimak dengan santai. Mereka tak peduli sama sekali dengan tumpukan barang bekas ataupun bau sampah dan kotoran hewan ternak yang menyengat.

Pada Rabu pekan lalu ke-13 bocah itu tengah belajar mengaji. Dari bangunan semi permanen seluas 2 x 2 meter, suara mereka mendengung mengikuti sang guru. Meski belajar di tempat seadanya, tanpa meja kursi, papan tulis dan fasilitas lainnya, anak-anak itu tetap semangat belajar. Mereka datang tiap sore dalam tiga kali sepekan untuk mengais ilmu di ‘sekolah pemulung’ di daerah Ciputat, Tangerang Selatan.

Seperti namanya sekolah yang terletak di Gang Mawar, Ciputat, ini memang diperuntukkan khusus bagi anakanak pemulung. Sekolah ini dibuat dan dikelola oleh Yayasan Sanggar Islam Al Hakim. Salah seorang pendiri dan penanggung jawab sekolah adalah Umar Hamdani, 32 tahun. Menurut Umar, sekolah pemulung bentukannya tidak hanya di Gang Mawar, tapi juga ada di 3 tempat lainnya. Rata-rata siswanya adalah anak pemulung dan orang tak mampu.

“Kita ingin mengangkat harkat dan martabat pemulung. Kami berharap mereka menyadari dirinya lewat pengetahuan terutama kesadaran diri untuk hidup lebih baik,” ujar Umar yang mengaku sekolah tersebut dibuat sejak Mei 2010. Kendati usianya masih belia, namun perkembangan sekolah kaum dhuafa ini terbilang pesat. Saat pertama kali dibuat di Gang Kubur, siswanya hanya empat orang. Jumlahnya terus bertambah sehingga yayasan membentuk sekolah lagi di area yang lain. Terhitung jumlah siswa saat ini 70 orang, tapi karena keterbatasan biaya Umar memanfaatkan mushola dan lapak pemulung sebagai tempat belajar.

Awalnya anak-anak pemulung ini hanya diajari mengaji. Lambat laun pelaran bertambah. Ada Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan kerajinan tangan. Pelajaran ini diberikan untuk menambah pengetahuan anakanak yang tak bisa belajar di sekolah umum ininya. “Matematika diajarkan karena kan ilmu hitung. Biar mereka mau berdagang dikemudian hari,” ungkap lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Yayasan Sanggar Islam Al Hakim tak menarik biaya sepeser pun dari siswanya. Sebaliknya yayasan yang menyediakan buku dan fasilitas lainnya secara cuma-cuma untuk siswa. Sistem belajar mengajar yang diterapkan sekolah ini juga lebih fleksibel. “Lebih rileks. Matematika dan Bahasa Inggris juga diajarkan lebih rileks,” lanjut Umar.

Tumpukan barang bekas di depang kelas Sanggar Pendidikan Al-Hakim di Gang Mawar Ciputat.

Yayasan Sanggar Islam Al Hakim tak hanya memperhatikan kebutuhan pendidikan anak-anak pemulung. Mereka juga berupaya mengubah kehidupan keluarga pemulung dengan memberdayakan ekonomi mereka. Menurut Umar, yayasan mencoba memberdayakan ekonomi pemulung dengan memberikan modal. Misalnya satu keluarga diberi ternak berupa ayam atau kambing untuk dikelola. Karena itu tak heran, jika saat kelas berlangsung bau kotoran hewan ternak memenuhi ruas kelas.

“Dalam waktu dekat kita akan membuat gerobak untuk gorengan,” ujar mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini. Umar berharap melalui program tersebut, pemulung bisa berganti profesi, tak lagi mengais sampah untuk bertahan hidup. Umar juga berharap sekolah-sekolah yang dibuatnya berkembang menjadi sekolah formal. “Agar anak-anak pemulung lebih mudah melanjutkan studi untuk mencapai cita-cita mereka,” katanya.

Salah seorang pengajar, Beti Nurbaeti, 28 tahun, mengaku tak mudah mendidik anak-anak pemulung. “Banyak perilaku, cara bicara, perlu dibimbing dan itu rada susah,” ungkap mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini. Masalah lainnya, lokasi belajar sering terendam banjir. Kendati demikian, Beti mengaku senang lantaran bisa membantu anakanak kurang mampu, sekalipun ia tak digaji. Seorang siswa asal Merauku, Papua, Irianto, 16 tahun, mengaku senang bisa belajar di sekolah besutan Umar.

Mustakim | Rubayyi Astari
  • http://www.facebook.com/shofan.vista Shofan Amirudin

    dimana alamat lengakapnya?

  • susan

    boleh tau alamat lkpnya kah?