fokus

Matryoshka

Senja masih berwarna jingga ketika pekan lalu saya sibak tirai jendela kamar tempat saya menginap. Saya sempatkan jalan kaki menyusuri lorong Kota Surabaya. Para pedagang makanan kaki lima sibuk mendirikan tenda dan mengatur meja. Sebagian lainnya sibuk menurunkan dagangannya yang diangkut becak. Saya merasa berada di tengah kegaduhan melankolik yang jauh dari kerumitan dan kepalsuan politik di Ibukota.

Kota Pahlawan ini tak pernah bosan menghipnotis saya dengan energi masyarakatnya yang penuh kebersamaan. Demam yang sempat menyendera saya beberapa jam di tempat tidur, sirna seketika.

Kekompakan orang-orang di sekitar saya membuat saya teringat matryoshka, boneka kayu khas Rusia. Keberagaman mata pencaharian yang bisa bertemu dalam wadah perjuangan mencari nafkah seperti corak warna khas matryoshka.

Sikap saling bahu-membahu para pedagang makanan di sepanjang jalan, mirip sosok boneka matryoshka yang umumnya berwujud wanita berpakaian tradisional Rusia, berkerudung. Ketahanan mereka bagaikan energi berlapis-lapis persis wujud boneka matryoshka yang di dalamnya terdapat belasan boneka sejenis hingga ukuran terkecil.

Lamunan saya tentang boneka lucu yang lahir dari buatan tangan masyarakat Rusia sempat melambung hingga ke sejarah pergolakan Revolusi Bolshevik yang mengubah jalan cerita kekaisaran raksasa itu. Beruntung, tepukan pedagang lontong balap di pundak saya membuyarkan lamunan. Dia hendak memasang tirai di depan lokasi jualannya. Saya kembali tersadar dan merasa hari mulai gelap, nyaris maghrib.

Dalam perjalanan kembali ke tempat saya menginap, kaki jadi kian ringan. Berbagai macam pikiran yang bertengger di kepala saya seolah terbang. Kebersamaan masyarakat yang baru saja muncul di hadapan saya benarbenar mengingatkan saya kemDalam perjalanan kembali ke tempat saya menginap, kaki jadi kian ringan. Berbagai macam pikiran yang bertengger di kepala saya seolah terbang. Kebersamaan masyarakat yang baru saja muncul di hadapan saya benarbenar mengingatkan saya kembali tentang fakta kedahsyatan masyarakat yang teguh memegang solidaritas.

Mereka tidak sedang mendiskusikan sistem hukum, strategi politik, jelajah kebudayaan, ataupun membincangkan jurus-jurus perbaikan ekonomi. Mereka menegakkan keadilan, ekonomi, posisi politik, dan lain-lain, semata- mata atas dasar obyektifitas dan rasionalitas. Tapi justru dari sesuatu yang berjalan seperti air mengalir itu, amat terasa adanya sebuah peradaban, sangat mengesankan lahirnya semangat hidup tiap detik.

Ketika Negara dengan semua sistemnya tak bisa memenuhi rasa keadilan, ketenteraman, ketercukupan, dan penghargaan, rakyat tentu cemas. Apalagi ditambah dengan seolah-olah Negara membuka kran demokrasi lebar-lebar, sementara sistem tak terpelihara. Semua kebersahajaan rakyat pun perlahanlahan binasa dan demokrasi jadi musibah. Demokrasi bisa berjalan benar jika semua sistem kehidupan berjalan. Seperti ketika kita menyusun boneka matryoshka, jika kita salah menyusun ukurannya, maka belasan matryoshka tak bisa menyatu dalam satu raga.