impresario

Bertahan Demi Impian

Anak mantri kesehatan ini sempat ditolak masyarakat suku Baduy Dalam. Tapi ia tak menyerah.

Perempuan berkerudung itu memegang perut Ana yang sedang hamil tujuh bulan. Ia kemudian memeriksa detak jantung janin dalam kandungan wanita 17 tahun itu dengan menggunakan stetoskop. Hasil pemeriksaan tersebut lantas dicatat dalam sebuah buku.

Aktivitas itu kerap dilakukan Eros Rosita, sang perempuan berkerudung itu. Itu lantaran dia adalah bidan desa di Kampung Ciboleger, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuidamar, Lebak, Banten. “Sebenarnya cita-cita saya menjadi guru agama,” ujar Eros kepada Prioritas seraya tertawa, beberapa waktu lalu.

Namun, lantaran gagal mengikuti ujian Pendidikan Guru Agama, Eros akhirnya menuruti kemauan ayahnya, Idi Rosyidi. Sang bapak yang dikenal sebagai mantri kesehatan, mendaftarkan dia menjadi siswa sekolah kebidanan. “Bapak ingin melihat Ros menjadi bidan di Baduy agar kesehatan masyarakatnya lebih maju,” ujar Eros mengingat petuah orangtuanya.

Ternyata, tak mudah bagi perempuan kelahiran 15 Agustus 1972 ini untuk mewujudkan permintaan sang ayah. Kehadiran Eros yang ditugaskan sebagai bidan tidak tetap di Baduy sejak 1997 itu, sempat ditolak masyarakat setempat.

Awalnya, tak seorang pun yang bersedia menjadi kader kesehatan posyandu yang dibinanya. “Setiap ibu yang saya datangi menolak,” ujar ibu Ilham Nurfaizi (13) dan Fitria Apriliani (7) ini.

Sikap tak acuh itu sempat membuat Eros berniat mengurungkan tekad mengabdi pada masyarakat Baduy. Ia pun membujuk suaminya, Asep Kurnia meninggalkan kampung Ciboleger, tempat tinggalnya saat ini. “Tapi ia (Asep) menolak dan terus menyemangati untuk tidak menyerah,” ujar Eros.

Lambat laun, seorang ibu akhirnya mau menjadi kadernya. “Ibu Las kader pertama,” katanya. Perempuan itu yang lantas menemani Eros menjangkau sudut-sudut kampung Baduy Dalam.

Meski telah memiliki kader, tak berarti masalah Eros selesai. Persoalan lain muncul di masa-masa awal tugasnya itu. Kemampuannya membantu persalinan sempat diragukan masyarakat Baduy Dalam. Semula, tak seorang pun yang bersedia menjalani persalinan dengan bantuannya. “Mereka takut karena biasanya bersalin pada bidan memakai gunting, dan takut biaya,” ujar perempuan yang berhasil lulus diploma III Kebidanan pada 2007 ini.

Ia kemudian mendekati seorang paraji, dukun beranak, untuk minta dilibatkan dalam proses persalinan. Namun ternyata, ia hanya diizinkan melihat saat sang dukun membantu persalinan. Sampai suatu ketika, seorang pasien paraji mengalami kendala. Plasenta bayi pasien itu tertinggal di rahim, sementara bayi telah dilahirkan.

Melihat kondisi pasien, Eros berkeras membawanya ke rumah sakit. Namun paraji malah meledeknya. “Percuma bidan dikirim ke Baduy oleh pemerintah kalau tidak becus mengatasi masalah seperti ini,” ujar Eros menirukan ucapan paraji saat itu.

Ledekan itu memicu dia mengambil risiko demi menyelamatkan sang pasien. Ia pun mengeluarkan dua kantong infus. Cairan itu lalu dialirkan melalui kedua tangan ibu muda yang tergolek lemah tersebut. Saat kondisinya mulai membaik, Eros pun mengambil plasenta yang tertinggal di rahim dengan tangannya.

Ia sadar tindakannya berisiko. “Saya cuma bidan bukan dokter,” ujarnya. Tapi langkahnya itu membuat paraji dan masyarakat Baduy mengakui kemampuannya. Sejak itu, upaya memperkenalkan pengobatan modern menjadi terbuka.

Hingga kini, Eros tetap mengabdi meski hanya dibayar ala kadarnya. Bantuan pemerintah senilai Rp 100 ribu dari setiap persalinan yang dilakukan tak masuk ke kantongnya. Uang itu dikelola sebagai kas untuk membiayai kader dan membantu kesehatan masyarakat setempat. Ia merasa cukup dengan penghasilannya sebagai pegawai negeri sipil golongan II D.

Namun, saat ini, masih ada impiannya yang belum terwujud: mendirikan rumah bersalin di Kampung Baduy. “Ketua adat tidak mengizinkan. Kalau didirikan di luar wilayah adat, boleh,” ujarnya. Tapi ia tak kurang akal. Sebuah balai pengobatan dilengkapi dengan dua kamar perawatan didirikan di sebelah rumahnya. “Mereka menolak berobat di rumah sakit karena dilarang adat, tapi bersedia diobati di rumah saya ketika sakit,” ujarnya.

Yekthi Hesthi Murthi | Bushtari Ariyanti