Usia tak menghalangi Abah Iwan mendaki gunung. Alam menginspirasi puluhan lagu ciptaannya.

Iwan Abdulrachman , pencipta lagu dan anggota Wanadri senior, di Jakarta, Selasa(17/4).
Jemari Iwan Abdulrachman memetik dawai gitar kayu yang ada dipangkuannya. Lagu Balada Seorang Kelana lantas mengalun dari bibir pria berkumis tebal itu.
Suaranya terdengar jernih mendendangkan lagu tentang perjalanan seorang petualang di tengah belantara hutan itu. “Angin, bunga, pohon dan burung camar banyak menginspirasi lagu-lagu saya,” ujar laki-laki yang akrab dipanggil Abah Iwan ini kepada Prioritas usai pentas, di Hotel Darmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa malam pekan lalu.
Di kalangan pecinta alam, sosok Abah Iwan tak hanya dikenal karena lagunya, tapi juga semangatnya. Hingga di usia 65 tahun saat ini, ia masih naik turun gurung. “Kemarin baru dari Gunung Rinjani,” ujarnya.
Bagi bapak dua anak ini, usia baya bukan halangan untuk terus menjelajah alam. Agar tetap bugar, ia meluangkan waktu bersepeda sekitar tiga jam saban hari. “Tua itu bukan masalah, yang terpenting semangat dan rasa syukur,” ujar Abah Iwan.
Saat ini, bersama tim ekspedisi Seven Summit, pria kelahiran 3 September 1947 itu sedang mempersiapkan diri turut dalam gelombang kedua pendakian ke puncak tertinggi di dunia, Everest di Tibet. Tahun lalu, dia berhasil mendaki puncak Cartensz di Papua dan Kilimanjaro di Tanzania. “Buat saya, setiap naik gunung (memberi pengalaman) istimewa,” ujar Abah Iwan.
Hobinya naik turun gunung tersalurkan sejak bergabung dalam kelompok pencinta alam Wanadri tahun 1964. Ketika itu ia masih duduk di bangku kelas dua SMA 2 Bandung. “Saya angkatan ketiga,” ujarnya.
Kedekatannya pada alam, membuat dia yang juga gemar bermain musik ini, produktif mencipta lagu. Lagu Balada Seorang Kelana adalah karya pertamanya. Buah karya lainnya berjudul Melati dari Jayagiri serta Flamboyan dinyanyikan grup Bimbo. Dua lagu itu cukup popular di masyarakat.
Sentuhan musik Abah Iwan bersama Chandra Darusman juga berhasil mengantarkan lagu Burung Camar, karya Aryono Huboyo Djati, memenangkan berbagai festival internasional. Dari tangannya pun lahir lagu Mars Wanadri yang diadopsi dari lagu Kepanduan. “Saya hanya mengganti liriknya,” ujar Abah Iwan yang mengaku belajar gitar secara otodidak.
Hingga kini, sekitar 70 lagu telah lahir dari petikan gitarnya. “Sedikit ya,” ujar laki-laki yang pernah bergabung dalam Band Aneka Nada bersama Guntur Sukarno Putra, Acil dan Sam Bimbo ini, merendah.
Sejumlah lirik lagu yang dilahirkan anak kedua dari tujuh bersaudara ini dikenal puitis dan penuh makna. “Orangtua mengajarkan saya berbahasa halus, karena bahasa menunjukkan penghargaan kepada lawan bicara,” ujarnya.
Selain dari alam, inspirasi lagunya juga datang dari pengalaman. Lagu berjudul Prajurit Garuda dan Tentara misalnya, terinspirasi dari pergaulan Abah Iwan dengan kelompok militer.
Abah Iwan dikenal dekat dengan kalangan militer. Kemahiran dia menjelajah dan bertahan hidup di hutan rimba mendapat apresiasi dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia lantas sering dilibatkan dalam latihan dan berbagai operasi militer. “Saya orang sipil tapi punya kemahiran dan ketrampilan yang bisa dimanfaatkan tentara,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran ini.
Tak hanya itu, ia pun diangkat menjadi warga kehormatan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Tapi karena kedekatannya dengan militer itu juga, pada masa transisi reformasi 1998, banyak kalangan menduga, dia adalah bagian dari intelijen. Ia membantah tudingan itu. “Intel itu kan warga dari satu institusi intelijen. Saya bukan, saya Wanadri,” ujarnya tegas.
Ia menduga, tuduhan itu muncul lantaran kedekatannya dengan komandan Kopassus saat itu, Prabowo. Tapi ia tak memperdulikan semua tudingan tersebut. “Wanadri itu sahabatnya banyak. Kami tidak bisa meninggalkan sahabat, kalau dicaci maki, ya, kita bela,” ujarnya.
Yekthi Hesthi Murthi | Bushtari Ariyanti