
Prof. Dr. Bachtiar Aly | MA Guru Besar FISIP Universitas Indonesia
Laga tinju di sasana olahraga di alam terbuka adalah hal yang biasa. Tapi kalau tempat bertinju di bawah tanah atau yang disebut bunker tempat persembunyian di kala perang, itu baru luar biasa. Tersebutlah kisah emigran Gerschon Luxemburg dengan tiga bersaudara dari Negara ex-Uni Soviet, Uzbekistan yang kini bermukim di kota Jerusalem Barat. Sang Ayah yang tinggal dengan keluarganya di kota Taskent merestui keempat bersaudara remaja ini merantau ke Israel pada tahun 1972.
Belum berbenah diri dengan tenang, di tahun 1973 pecah perang yang berkepanjangan dan sangat banyak jatuh korban. Luxemburg bersaudara hidup terlunta-lunta. Untuk menyambung hidup mereka kerja serabutan, apa saja, tidak pilah-pilih yang penting tetap survival. Semasa masih di kampung halamannya, Gerschon suka olahraga tinju. Hobi adu jotosnya berlanjut. Ia bersama saudaranya bergabung dalam tim nasional Israel.
Tidak tanggung-tanggung, ia sempat menyandang juara tinju di kelas menengah selama tujuh kali. Seakanakan ini merupakan puncak prestasinya setelah dulunya lima kali berturut- turut menjadi master di negara asalnya yang berideologi komunis itu. Apapun hidup di bawah tekanan dan serba tidak menentu membentuk watak orang lambat laun menjadi tahan banting, tangguh dan tidak cengeng.
Terjadinya eksodus besar-besaran keturunan Yahudi dari Rusia ke Israel, merupakan peluang dan kesempatan untuk mendirikan sasana olahraga tinju yang diberi nama Jerusalem Boxing Club. Suatu klub tinju yang anggotanya sangat beragam, tidak ada perbedaan ras, agama dan golongan.
Tempat berlatihnya cukup unik di bawah tanah. Bunker yang terbuat sedalam tiga meter dengan dikelilingi tembok tebal. Bagi reporter Juliane von Mittelstaedt (Der Spiegel, Hamburg, 26/03) yang bertandang ke tempat itu sempat dibuat tercengang. Ia melihat di sekeliling dinding terdapat poster yang beraneka ragam warna dan tokoh . Mulai dari petinju legendaris Cassius Clay alias Muhammad Ali hingga Vladimir Putin, penguasa Rusia yang baru terpilih lagi sebagai Presiden.
Lokasi klub ini di tengah-tengah lapangan parkir di jantung kota tua Katamon. Udaranya pengap. Pintunya hanya satu, maklum namanya juga bunker perang.
Disini yang berlatih tinju termasuk anakanak yang masih belia. “Ismail maju, Jehuda mundur dulu,” teriak penonton dengan bahasa Ibrani beraksen Rusia.
Terasa betul sasana bunker ini menjadi oase, tempat rileksasi mereka yang mencari hiburan dan lari dari rutinitas yang menjemukan.
Nama lengkapnya Ismail Safri (38), pekerjaan Sopir truk tinggal di Jerusalem Timur, orang Palestina. Rival tinjunya bernama Jehuda Luxemburg (24), keponakan pemilik sasana, pernah aktif sebagai satuan khusus tentara Israel bermukim di Jerusalem Barat. Uniknya, iklan berjalan yang terpampang di dinding mobilnya mengundang warga Palestina untuk bergabung.
Awalnya Luxeburg enggan menerima mereka, tapi akhirnya itu menjadi lembaran baru untuk ikut menjaga perdamaian. Di tahun 1987 ia terpaksa mendekam di penjara selama enam bulan dan tiga tahun tahanan rumah. Kesalahannya menyimpan senjata tanpa izin dan sejumlah granat anti panser untuk keperluan melindungi keluarganya.
Anak didiknya di sasana bergerak lincah, tangannya menghujam lawannya , jab-jab kecil di layangkan, suatu pukulan straight membuat lawan terperangah dan tiba-tiba pukulan hook dalam jarak sangat dekat dari arah samping membuat lawan meringis. Dalam posisi sempoyongan upper cut mematahkan pertahanan lawan. Sang lawan kini terkulai di tali ring. Tersungkur dengan hidung sedikit berdarah. Matanya lebam. Darah beku menggumpal, begitulah seterusnya. Dentang lonceng menghentikan pertandingan. Tiga menit ronde pertama selesai dan lanjut sampai tanding usai.
Sang Wasit tampil di tengah gelanggang mengangkat tangan kedua petarung untuk kemudian mengumumkan sang pemenang. Di luar dugaan, kedua medali dibagi-bagikan kepada mereka. Heran, yang kalah juga dapat medali. Memang kemenangan ini mengandung makna ganda.
Ini tidak sekadar urusan tinju. Klub yang beranggotakan 200 orang ini terdiri dari anak-anak, pemuda, pengungsi, serdadu. Semua agama samawi ada disini. Mereka berbaur disitu. Tak ada secuil pun terbersit rasa sentimen akibat perang Arab-Israel.
Klub tinju ini mengemban misi mulia. “Klub ini mempertemukan orang Jahudi dan Arab untuk saling memahami dan bekerjasama,” tegas Gerschon bangga. Prestasi Klub ini telah mengantarkan petinjunya meraih mimpi menjadi Juara Olympiade dan menggapai cita-cita menuju Juara Dunia.
Sehari hari Gerschon mengenakan celana jogging, rambut ditutupi sepenggal topi religious yahudi, Kipa. Warna janggutnya mulai abu-abu. Senyum dikulum menghiasi wajahnya yang ceria tapi terlihat letih. Ia bangga bahwa kini di klubnya duduk berjejer anak muda yang belajar teknik penerbangan, mahasiswa kedokteran, teenanger dari Rusia, mahasiswa Jehova dari Amerika lagi bercengkerama dengan wanita muda Armenia.
Semua mereka sedang menanti giliran untuk berlatih tinju dengan berbagai teknik. Disini tak ada yang ngerumpi tentang perang. Tak ada permusuhan. Orang datang kemari ingin menghilangkan kepenatan. Fokusnya bagaimana bertanding dengan power, speed, strategies dan fairness.
Bagi Ismail yang telah bergabung di Klub ini sejak 15 tahun lalu, sering merasa galau karena ketidakadilan. Ia tinggal di Timur kota yang miskin. Lima menit dengan mobil sampai di klubnya, kota Jerusalem Barat yang sejahtera. Kadang seperti Gerschon, ia berpikir kalau di bawah tanah orang bisa damai, mengapa di alam terbuka orang masih bermusuhan? Lebih tak mengerti lagi ketika rakyat Palestina menuntut agar Jerusalem Timur boleh menjadi Ibukota Negara Palestina Merdeka, mengapa pula rezim Yahudi itu tak rela? Inilah ironi keserakahan, gumamnya kesal.

