Seyyed Mohammad Hosseini, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran.

Seyyed Mohammad Hosseini, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran.
Di tengah memanasnya hubungan Iran dengan Barat, negeri ini tak pernah berhenti mempromosikan budaya dan menjalin kerjasama dengan negara-negara lain. Maret lalu, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, Seyyed Mohammad Hosseini mengunjungi Indonesia. Selain menggelar promosi kebudayaan, ia juga menandatangani kerjasama kebudayaan dengan pemerintah Indonesia.
Iran selama ini dikenal sebagai negara yang memproteksi kebudayaannya terutama terhadap anasir kebudayaan Barat yang dinilai tak sesuai nilai ke-Islaman. Diantaranya dengan memproteksi karya seni, termasuk produk perfilman. Namun Hosseini membantah bahwa negerinya kelewat protektif terhadap pengaruh asing. Menurutnya, itu hanya isu yang dihembuskan pihak Barat.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana Iran mengelola kebudayaannya, wartawan Prioritas, Alireza Alatas, mewawancarai menteri bergelar Doktor Ilmu Hukum Islam ini di penginapannya Hotel Gran Melia, Kuningan Jakarta Selatan, Maret lalu.
Diselingi santap pagi menteri Negeri Mullah itu, bercerita banyak soal siasat kebudayaan negerinya dalam bahasa Persia, berikut petikan wawancaranya;
Iran seringkali disebut sebagai negara yang tidak demokratis?
Iran adalah negara yang paling demokratis di dunia. Ini terbukti dari pemilu-pemilu yang melibatkan suara rakyat. Setelah Revolusi Islam Iran, Iran menggelar lebih dari 30 kali pemilu. Kondisi itu bertolak belakang dengan sejumlah negara di Timur Tengah yang tidak pernah menggelar pemilu. Di Arab Saudi tidak ada pemilu. Sejumlah negara di Teluk Persia juga tidak punya parlemen. Kalaupun ada parlemen, anggota-anggotanya ditentukan oleh otoritas raja dan masyarakat tidak dilibatkan. Yang lebih memprihatinkan, negara-negara seperti ini tidak pernah memprotes kebijakan Washington karena berafiliasi dengan Amerika Serikat.
Iran dianggap memangkas kebebasan berekspresi seniman dengan sikap protektifnya?
Sejumlah negara Barat berusaha melakukan propaganda yang menyudutkan Iran dengan memaksakan perspektif mereka. Mereka memprotes, mengapa buku Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdie dilarang di Iran atau mengapa karikatur penghinaan terhadap Rasulullah Saw tidak dipublikasikan di media-media. Semua itu adalah konspirasi. Dalam setahun ada 4500 judul buku dan majalah. Namun dari jumlah itu hanya sekitar empat buku atau majalah yang kami tindak. Angka ini tidak sampai satu persennya.
Tidak dapat dipungkiri, Amerika Serikat berusaha semaksimal mungkin menekan Iran dengan berbagai cara. Dari sisi budaya, Iran dianggap tidak menghargai kebebasan berekspresi. Semua ini hanyalah propaganda. Apakah Washing- Jenderal (Purn) TB Silalahi ton selama ini menghendaki kebebasan yang sesungguhnya di Irak, Afghanistan dan sejumlah negara lain? Jika benar demikian, mengapa Washington harus bungkam menyaksikan negara- negara yang membelenggu pemilu-pemilu yang melibatkan rakyat?
Bagaimana bentuk perlawanan Iran dalam menghadang serangan budaya Barat?
Barat berusaha mencari celah untuk mengembangkan budaya pornografi di Iran. Budaya pornografi mulai dikembangkan dengan target supaya masyarakat lupa akan musuh-musuh negara ini yang menggerogoti karakter bangsa. Karena itu, kami mengantisipasi budaya busuk dengan membuat film-film yang mengingatkan kejahatan-kejahatan Amerika di kawasan. Kita membuat film yang berkaitan dengan Perang 33 hari di Lebanon. Kami juga membuat film yang menyinggung arogansi Amerika Serikat di Afghanistan. Kemudian kami juga membuat film-film soal kejahatan Israel di Palestina. Semua langkah itu sengaja ditempuh untuk membela ketertindasan, bukan melayani kezaliman.
Karena Iran melawan, Barat pun marah. Mereka mulai membuat ulah dan berbagai propaganda, bahkan melalui orangorang lokal Iran yang berafiliasi dengan Barat. Sebagai contoh, mereka memberi Penghargaan Perdamaian Nobel kepada Shirin Ebadi yang kemudian dipakai untuk menyerang kebijakankebijakan Iran. Pada intinya, Amerika Serikat menghendaki Iran kembali seperti era Reza Pahlavi yang bersedia menjadi budak Washington.
Belum lama ini, film Iran, “A Separation” mendapatkan penghargaan Oscar untuk kategori film asing terbaik. Apakah ini ada aspek politisnya?
Aspek politik bisa jadi ada. Apalagi festival-festival yang diselenggarakan di Barat, khususnya Amerika Serikat, tentunya bisa mempunyai aspek politik. Namun terlepas dari itu semua, film itu sendiri juga harus mempunyai kelayakan untuk dimunculkan di kancah internasional, sehingga film yang diberi penghargaan itu tidak menuai kritik. Film “A Separation” memang mempunyai kelayakan untuk meraih penghargaan. Apalagi film ini mendapatkan lima penghargaan Simorgh Kristal pada Festival Film Fajar Iran.
Beberapa waktu lalu, seorang artis film “ My Tehran for Sale “diberitakan mendapat hukuman 90 kali cambuk?
Itu tidak benar. Bahkan kami tidak punya hukum cambuk sebanyak itu. Seseorang pada tahap penghinaan kepada Rasulullah Saw atau tindakan haram yang terbuka sekalipun, tidak akan mendapatkan hukuman cambuk sebanyak itu. Bahkan artis yang bernama Marzieh Vafamehr belum dijatuhi hukuman penjara seperti yang diberitakan media-media. Memang sudah ada pengaduan terkait artis itu, tapi hingga kini belum ada putusan. Karena itu, isu hukuman 90 cambuk terhadap Marzieh sangat menggelikan.

Musik tradisional Iran ditampilkan pada rangkaian kegiatan Pekan Budaya Iran dan pemutaran film di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.
Bagaimanakah prosedur izin tayang film di Iran?
Film di Iran dibuat oleh swasta. Karena itu, siapa pun bisa membuat film di negara ini. Namun untuk mempublikasikan hasil karyanya, pembuat film harus punya izin tayang. Yang jelas, semua film yang tersebar di Iran harus mendapat izin dengan prosedur yang sudah diatur. Ketika sebuah film bernuansa porno atau kontra nilainilai Islam dan kemanusiaan, izin tidak akan dikeluarkan.
Jika ada film yang menjelek-jelekkan Rasulullah Muhammad Saw atau Isa Al-Masih as, maka kita berkewajiban menolak bahkan mengecamnya. Dengan slogan kebebasan beragama siapapun tidak dibenarkan menyakiti orang lain. Harga diri manusia harus dihormati. Hal itu bukan berlaku pada film saja, tapi juga karya-karya lainnya seperti buku.
Siapakah yang mengeluarkan izin publikasi tersebut?
Ada sebuah dewan yang mengeluarkan izin itu. Dewan itu beranggotakan para akademisi, sastrawan dan seniman, termasuk kalangan sineas. Sementara hanya satu orang dari Departemen Kebudayaan dan Bimbingan Islam di dewan itu yang berfungsi sebagai sekjen.
Mengapa Iran mewajibkan para artis memakai jilbab dalam film mereka?
Ini sudah menjadi bagian dari aturan. Namun para sineas boleh tidak mengenakan jilbab, tapi mereka harus main di luar negeri dan film-film mereka tetap bisa disiarkan di Iran.
Iran mempunyai banyak tempat sejarah. Bagaimana pemerintah Iran menjaga peninggalan- peninggalan sejarah jika Iran diserang?
Kami tahu bahwa perang akan membawa petaka. Dalam perang sebelumnya, sejumlah kota seperti Khoramshahr dan Mehran, hancur lebur. Ketika sebuah kota hancur, banyak tempat sejarah yang juga hancur. Merekalah yang menyulut perang harus mempertanggungjawabkan.
Kesepakatan apa yang dibuat pemerintah Iran dan Indonesia di bidang budaya terkait kunjungan Anda kali ini?
Kami selama di Indonesia, melakukan perundinganperundingan yang baik dengan para pejabat tinggi Indonesia, khususnya dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mohammad Nuh. Kami siap menjalin kerjasama di segala bidang, khususnya di bidang kebudayaan seperti perfilman, kesustraan dan lain-lain. Kami berharap bisa menggelar festival bersama. Kami juga berharap dapat membuat film bersama dengan Indonesia. Kami tidak akan membatasi hubungan dengan Indonesia.
Kami mempunyai penghormatan tersendiri kepada rakyat Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar di dunia. Kami juga sadar bahwa Indonesia punya pengaruh penting di dunia. Selain itu, kami juga mempunyai sejarah hubungan yang lama. Apalagi masyarakat Indonesia selalu memandang Iran sebagai negara perjuangan terhadap kekuatan-kekuatan arogan. Atas dasar itu, kami mengharapkan kemufakatan-kemufakatan dengan Indonesia dalam tataran lebih besar.
BIODATA
- Seyyed Mohammad Hosseini
- Tahun Kelahiran: 1961
- Tempat lahir: Rafsanjan, Iran
- Agama: Islam
PENDIDIKAN
- Magister Pemikiran dan Dakwah Islam, Doktor Ilmu Hukum Islam
JABATAN SEKARANG
- Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam
JABATAN-JABATAN SEBELUMNYA
- Rektor Univ ersitas P ayam Nour, Iran.
- Deputi Menteri Riset dan Teknologi Iran
- Asisten Pemerintah untuk Hukum dan Urusan P arlemen di Kementerian Riset dan Teknologi
- Ketua Direksi Penerbitan Keilmuan dan K ebudayaan
- Penasehat Ketua Perwakilan Pemimpin Besar Iran di Universitas-Universitas untuk Urusan Parlemen
- Penasehat Ketua Badan Kebudayaan dan Hubungan Islam untuk Urusan Parlemen
- Direktur Pelaksana dan Ketua Direksi Penerbitan Soroush
- Wakil Pimpinan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB)
- Wakil Rakyat Daerah Rafsanjan di Parlemen Iran dan Anggota Komisi K ebijakan Luar Negeri
- Kepala Pusat Kebudayaan Republik Islam Iran di K enya
- Anggota Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran)