Mengurangi berat badan dengan cara sembarangan tidak hanya membuat badan menjadi lemas, tapi juga bisa berujung pada timbulnya penyakit baru. Untuk mendapatkan tubuh langsing yang sehat, kenali penyebab kegemukan.

Ilustrasi
Puluhan orang terlihat seksama mendengarkan pemaparan beberapa dokter spesialis dalam talkshow bertema: “Kupas Tuntas Masalah Obesitas: Dampak Kegemukan terhadap Kesehatan”, Kamis sore pekan lalu. Talkshow yang diadakan di Assembly Hall lantai 10 Plaza Bapindo, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, itu merupakan rangkaian dari acara “Jakarta Slimming Festival” yang digelar selama empat hari, 12-14 April 2012. Peserta kebanyakan perempuan dan ibu-ibu di atas 30 tahun. Meski tampak pula beberapa laki-laki.
Lia, 33 tahun, salah seorang peserta yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan mendapat banyak informasi mengenai obesitas, berat badan dan hubungannya dengan berbagai penyakit seperti diabetes dan jantung. “Tertarik juga bagaimana menurunkan berat badan yang sehat dan aman,” ujar karyawan yang tingal di daerah Cipayung, Jakarta Timur itu. Selain talkshow, Jakarta Slimming Festival juga menyediakan pemeriksaan gratis berat badan, kolesterol, tekanan dan gula darah serta dimeriahkan oleh berbagai produk kesehatan.
Ketertarikan Lia terhadap informasi cara menurunkan berat badan yang sehat memang tak berlebihan. Pasalnya selama ini ia sering mendengar cara menurunkan berat badan atau diet yang keliru. Seperti dialami Ana Agustina. Perempuan 24 tahun yang tinggal di daerah Menteng, Jakarta Pusat, itu terpaksa menderita sakit perut hebat gara-gara mengikuti cara diet yang salah.
Awalnya dengan berbekal informasi dari tetangga dan tanpa konsultasi dokter, sekitar Oktober tahun lalu Ana menjalankan program diet dengan meminum obat pencahar, yang memudahkan buang air besar sehari sekali sebelum tidur. Dengan cara ini Ana berharap perutnya yang buncit bisa kempes. Tapi malang, bukannya langsing Ana malah jatuh sakit. Seminggu setelah mengkonsumsi obat tersebut, perutnya menjadi sakit luar biasa.
“Perutku panas dan perih. Mencret dan harus bolak balik ke kamar mandi. Setelah itu badan saya terasa lemas sehingga tidak bisa bangun,” kenang alumni Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sukabumi itu. Menurut dokter Samuel Oetoro, spesialis gizi klinik di Rumah Sakit Siloam, Semanggi, Jakarta Pusat, pola diet yang dilakukan Ana jelas terlarang. Menurunkan berat badan yang sehat tidak boleh sama sekali menggunakan obat-obatan bersifat lastansia yang menyebabkan buang air besar atau kecil jadi lebih sering.
“Diet semacam itu golongan diuretika dan tidak dianjurkan,” ucapnya. Masih kata Samuel, jika diet dilakukan secara sembarangan bisa menimbulkan beragam penyakit. Misalnya osteoporosis, kulit kering, dehidrasi, rambut rontok, hati terganggu, hingga asam urat yang meningkat.
Menurut Samuel, menurunkan berat badan atau diet sehat sebenarnya bisa dilakukan dengan cara mudah, yakni dengan mencari penyebab kegemukan itu. “Makan berlebihan sementara aktifitas kurang. Padahal aktifitas itu tujuannya untuk membakar makanan yang dikonsumsi saban hari,” terang Samuel. Dia menganjurkan, jika ingin melangsingkan tubuh mulailah dengan mengurangi porsi makan dan mengatur jenis makanan. Namun mengurangi porsi makan tidak boleh drastis.
“Pelaku diet hanya boleh mengurangi seperempat porsi makanan dari kebiasaan makan sehari-hari,” ujarnya. “Kemudian kita harus mengatur makan dengan gizi seimbang. Ada sumber karbohidrat antara 50 – 60 persen, protein 15 – 20 persen dan lemak 20 – 25 persen.” Selain mengatur pola makan, diet sehat juga harus diikuti olahraga yang teratur.
Agus Subagyo, mahasiswa paskasarjana Universitas Indonesia, mencoba menjalankan diet sehat tersebut sejak dua bulan lalu. “Saya hanya menerapkan tiga prinsip yaitu pengaturan pola makan, olahraga dan istirahat yang cukup. Sekarang saya makan beras merah atau kentang, menghindari makanan yang mengandung minyak berlebihan, dan rutin olahraga pagi dan sore selama 30 menit, terus mengurangi begadang,” ujar pemuda 26 tahun itu. Hasilnya, berat badan Agus berkurang hingga 12 kilogram tanpa menderita sakit.
Makanan yang Harus Dihindari
Selama ini banyak pandangan keliru yang berkembang di tengah masyarakat. Terutama soal karbohidrat dan lemak. Dua zat penting bagi tubuh ini seringkali dianggap sebagai pantangan untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Padahal, kata dokter Samuel Oetoro, spesialis gizi klinik di Rumah Sakit Siloam, Semanggi, Jakarta Pusat, tidak seperti itu. Kedua zat tersebut tetap penting dalam diet sehat. Tapi yang harus diperhatikan adalah apakah karbohidrat dan protein tersebut yang dibutuhkan tubuh atau tidak.
Karbohidrat ada dua jenis, yakni karbohidrat sederhana dan kompleks. Yang terbaik saat melakukan diet adalah memilih karbohidrat kompleks, karena banyak mengandung serat sehingga proses pencernaannya lebih lama dan pernyerapannya lebih lambat. Contohnya nasi merah, kentang dengan kulitnya, sayuran, buah-buahan dan roti gandum. Sedangkan sumber bahan makanan yang mengandung karbohidrat seder hana harus dihindari. Misalnya gula pasir, gula jawa dan terpung-tepungan.
Untuk protein yang harus dipilih adalah protein sehat, baik protein hewani maupun nabati . Protein hewani sehat misalnya ikan. Sedangkan sumber protein yang harus dihindari saat diet adalah yang bersumber dari seafood karena mengandung kolesterol tinggi. Misalnya cumi, udang, kerang dan kepiting.
Lemak juga ada yang sehat dan tetap diperlukan oleh tubuh saat diet. Misalnya Omega 3 yang terdapat pada ikan laut dalam, Omega 6 pada kedelai dan Omega 9 dari kacang-kacangan seperti minyak zaitun. Lemak jahat yang bersumber dari seafood, gorengan, keju, margarin, kuning telur, daging merah berlemak, daging ayam dengan kulitnya wajib didihindari.
Salman Nasution | Agus Hariyanto

