Satu-satunya optimisme: bangun kekuatan baru bersama rakyat.

Surya Paloh
Bung Karno pernah mengingatkan, setelah membangun bangsa (nation building) penting dibangun karakter bangsa (character building). Ini menentukan kemajuan rakyat dan tercapainya tujuan nasional.
Bangsa Indonesia lahir dari kolonialisme panjang kaum imperialis. Nilai persatuan dan patriotisme anti-kolonialisme pun jadi watak utama bangsa. Sepanjang 1945-1965, kedaulatan, dan kemandirian terpatri dan membentuk karakter bangsa. Secara ideologi, politik, ekonomi, dan budaya, ia menjelma dalam pikiran dan tindakan nyata sehari-hari.
Kini, semangat mulia itu pudar seiring lahirnya para komparador kaum imperialis. Karakter bangsa keropos dan merapuhkan kehidupan rakyat. Penghancuran kedaulatan negeri terjadi di segala bidang; ketergantungan ekonomi, rusaknya budaya nasional, serta maraknya korupsi, primordialisme, ekstremisme agama, kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan.
Malapetaka yang ditakutkan Bung Karno jadi kenyataan, “Een natie van koelies en een koelie onder da naties.” Bangsa Indonesia menjadi kuli bangsa lain. Politik upah murah bagi buruh industri perakitan dan pengolahan milik imperialis menjadi kebijakan utama pemerintah.
Jumlah pengangguran membengkak akibat tiadanya industri di perkotaan. Perampasan tanah di pedesaan melahirkan kebijakan ekspor tenaga kerja murah—yang tak ubahnya perbudakan modern. Indonesia menjadi pengekspor kuli murah terbesar di dunia. Sekitar enam juta rakyatnya mengais rezeki di negeri orang tanpa perlindungan dan kesejahteraan.
Rakyat jadi kuli murah di perkebunan milik majikan Malaysia, pembantu rumah tangga di Hongkong, Taiwan, Singapura, hingga Timur Tengah. Juga buruh murah pelayaran kapal asing. Sementara kanker korupsi makin kronis di seluruh lapisan birokrasi; pusat hingga desa dan sekolahan.
Sosok teladan yang mencintai rakyat sepenuh hati dan tenaga lewat pengorbanan dan perjuangan makin langka. Ideologi negara menjadi jargon usang yang tak lagi memikat generasi muda. Indonesia ibarat Keris Tri Sakti berkarat, makin rombeng, tak lagi sakti. Keris itu sudah mati di tangan empu republik yang jadi pelayan asing. Tak ada masa depan seperti yang mereka janjikan. Tapi dunia terus bergerak dan berubah. Tak ada yang diam dalam keabadian. Segala yang keras bakal membusuk, menguap.
Satu-satunya optimisme: bangun kekuatan baru bersama rakyat. Masih bergema kata-kata Soekarno, “Samen bundeling van ale revolutionare khrachten (menyatu- padukan segenap kekuatan revolusioner dari seluruh rakyat tertindas dan terhisap untuk membentuk karakter bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian nasional).”
Tri Sakti butuh bara api agar terbebas dari karat yang menumpulkan. Di tengah padang ilalang kering dan tandus sekarang, segala yang baru sangat mungkin dipercikan dari tangan rakyat yang ingin hidup bermartabat. Sepercikan bisa menjadi kobaran. Itulah momen kembali mengasah keris agar memancarkan Tri Sakti: Indonesia berdaulat, mandiri, dan berkepribadian nasional. Rakyat akan menjadi tuan bagi nasibnya sendiri dan sahabat sejati bangsa-bangsa merdeka di dunia.
Kita bisa belajar dari mimpi Martin Luther King, jr. Melawan diskriminasi ras kulit putih terhadap ras kulit hitam, dia gencar menyuarakan impiannya ihwal masyarakat Amerika masa depan yang tak membedakan orang dari warna kulit, tapi karakter.
Identitas yang terbentuk dari olah cipta, rasa, dan karsa; itulah karakter yang mengarahkan takdir individu. Pembangunan karakter bangsa, tegas Bung Karno, tonggak pembangunan dan kemajuan. Tanpa karakter yang kuat, Indonesia hanyalah bangsa kuli. Pembangunan karakter menyusun konsensus kolektif perihal cara pikir dan tindak individu di tengah kehidupan berangsa dan bernegara. Dalam praktiknya, ia mensyaratkan sekumpulan warga berpikiran cemerlang, ilmiah, objektif, dan mengusung kejujuran intelektual.
Kombinasi kejujuran berpikir, berkata, dan bertindak dalam konteks kebangsaan akan menjadi kebiasaan kolektif pembentuk karakter bangsa. Jadi, sangat penting membangun pola pikir rasional, ilmiah, menjunjung tinggi demokrasi, keadilan sosial, dan kepentingan nasional.
Menurut Bung Karno, pembentukan pola pikir secara khusus dan karakter bangsa secara umum, harus melibatkan elemen bangsa secara penuh. Untuk itu diperlukan proyek kebangsaan, termasuk cara-cara konfrontasi jika diperlukan. Cara ini harus dilandasi sistem nilai yang kompak dengan cita-cita kebangsaan, yaitu perlawanan terhadap neo-kolonialisme dan implerialisme.
Di era reformasi, pembangunan karakter seolah barang langka. Kran liberalisasi mengucurkan arus deras budaya massa yang menyiram isi kepala setiap penghuni republik ini. Karakter yang terbentuk pun berupa budaya pop, hasil dari hegemoni yang menganulir kesadaran warga, dibanding proses partisipasi dan emansipasi.
Akibatnya, nilai dan filosofi kebangsaan digantikan tagline spanduk-spanduk raksasa yang menawarkan ragam produk sampah yang menyuburkan konsumerisme. Orientasi kebangsaan bergeser ke konsumerisme hedonistik. Hegemoni pasar pelan tapi pasti membangun entitas dalam ruang pikir, kata, dan tindak warga. Masyarakat pun menjadi tak ubahnya kumpulan bebek.
Sementara Bung Karno menyebut, pembangunan karakter Indonesia harus mengubah bebek jadi rajawali. Mengubah masyarakat yang hanya tunduk, patuh dalam kekalahan, menjadi masyarakat yang berani terbang tinggi mengarung angkasa, meski sendirian.