Meningitis bisa membunuh dalam hitungan jam. Berkejaran dengan waktu untuk mendiagnosa dan mengobatinya.
Bintang basket remaja di kota Kansas, Amerika Serikat, Maggie Meier, memukau penduduk setempat. Siswa sekolah menengah atas Blue Valley Northwest di Overland Park, Kansas, itu menyita perhatian warga karena berhasil memasukkan bola basket ke dalam keranjang meski ia masih dalam keadaan koma. Hebatnya, refleks gadis itu masih berjalan dan dia mulai memasukan bola secara presisi. Ibunya mengatakan kadangkadang Meier terbangun cukup lama hanya untuk memegang bola, kali lain ia akan menembak. “Tiga menit. Empat menit. Mungkin lima. Dan kemudian … kembali ke kondisi koma,” ujar sang ibu seperti dikutip The Kansas City Star.
Meier dilarikan ke rumah sakit saat musim gugur 2008 lalu. Awalnya karena kejang. Belakangan dokter berhasil mendiagnosa bahwa Meier menderita mycoplasma meningoensefalitis, jenis meningitis yang menyebabkan pembengkakan di otak. Akibat meningitis itu, Meier terbaring di rumah sakit selama 100 hari dan dalam kondisi koma. Dokter dan keluarga berupaya menggerakkan tangan dan kakinya setiap hari agar tidak kaku. Untuk mengingatkan tentang siapa dirinya, keluarga menempatkan bola basket di tangan Meier ketika ia duduk tegak di kursi roda.
Setelah menjalani perawatan intensif, Meier akhirnya sembuh. Tapi ia harus menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari kembali sejumlah hal seperti membaca, menulis dan bahkan berjalan. Kini Meier telah benar-benar pulih dan kembali aktif bermain basket. Kisahnya sungguh luar biasa, sehingga menghiasi media massa Amerika Serikat akhir Februari lalu. Kesembuhan Meier sekaligus memberi harapan baru kepada penderita meningitis di Amerika Serikat yang jumlahnya diperkirakan mencapai 3000 – 5000 setiap tahunnya.
Kesembuhan Meier bisa jadi sebuah keajaiban. Mengingat penyakit meningitis atau radang selaput otak itu sangat mengancam nyawa. “Kalau kita tidak tangani dari awal bisa menyebabkan gangguan pada otak. Kalaupun sembuh bisa menyebabkan cacat tetap, koma sampai kematian,” kata dokter Indra K Muhtadi, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.
Meningitis merupakan infeksi atas meninges atau membran yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Penyebabnya bisa karena bakteri (yang paling bahaya), virus, jamur, reaksi karena obat atau keracunan logam tertentu. Bakteri neisseria meningitides, ujar Indra, sangat berbahaya. Karena rata-rata penderita hanya bisa bertahan 1 x 24 jam dan secara statistik hampir separuh penderita meningitis akibat bakteri ini berujung pada kematian. “Penderita bisa mengalami kerusakan atas kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.”
Meningitis bisa menyerang siapa saja, Misalnya Sabtu pekan lalu, seorang wartawan dan pendiri Aliansi Jurnalis Independen, Malang, Bintariadi, akhirnya meninggal setelah berjuang melawan meningitis yang dideritanya. Balita berusia sembilan bulan, Muhammad Azzam Fadlan, juga dikabarkan menderita menigitis dan pernah dirawat intensif di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih Jakarta, April tahun lalu. Yang teranyar pemain bas group band Armada, Hendra Prayoga alias Endra, yang juga divonis meningitis sejak September tahun lalu. Endra mengalami penurunan fungsi penglihatan dan pendengaran dan telah menjalar ke organ hatinya.
Tiga penderita di atas tentu saja tak menggambarkan jumlah penderita meningitis di Indonesia. Bisa saja jumlah itu terus bertambah, karena meningitis merupakan penyakit menular. Penularannya bisa melalui air liur, saluran pernapasan, bersin dan batuk. “Tindakan pencegahan paling bijaksana adalah memberikan vaksinasi meningitis,” ujar Indra. Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, Indonesia bukanlah daerah endemis penyakit selaput otak. Daerah endemis meningitis atau dikenal pula dengan istilah daerah “sabuk penyakit meningitis” berada di Afrika.
Mengenal Meningitis
- Gejala Umum:
- Demam, sakit kepala, kaku kuduk, muntah, photophobia, bingung, kejang, ruam kulit, nyeri dan bengkak persendian, hipotensi.
- Diagnosis :
- Pemeriksaan fisik, darah, rontgen thorax untuk melihat adanya pneumonia, pemeriksaan cairan spinal atau CT Scan untuk melihat adanyaabses.
- Vaksinasi:
- Bila penyebabnya neisseria meningitides terdapat dua tipe:
- Meningococcal Conjugate Vaccine (usia 2 – 55 t ahun)
- Meningocal Polysaccharide Vaccine ( berusia di atas 55 tahun).
- Yang harus Divaksinasi:
- Tinggal di asrama, bepergian ke daerah sabuk endemi meningitis, jemaah haji dan umrah, dan memiliki penyakit paru.
Isu Lemak Babi
Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu, Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai selama belum ada penggantinya. Sumber: dr. Soedjatmiko,SpA(K), M.Si.
Salman Nasution | Agus Hariyanto

