Bila wartawan mampu menenung isu publik, bagaimanakah mereka menggunakan kekuatannya? Baik di Cina, Kamerun, India, Italia, Inggris, sampai Amerika, wartawan punya model khas. Walau mereka saling intip dan belajar, toh tiap masyarakat punya adonan kultur, profesional, produk berita, sampai kode etik masing-masing. Tidak sesederhana asumsi, selama ini, yang dikaitkan dengan globalisasi media.
Namun, urusan memutuskan perang atau tidak, itu lain! “Kita semua bakal kena setrum oleh kekuatan wartawan, dan cara mereka memediasi hidup kita,” ungkap Hugo de Burgh (2005). Terlepas mereka sudah kadung mencampuraduk dunia jurnalis dengan dunia pendekar, pemberontak, penari, penyanyi, atau James Bond, bahkan koboy –sesekali jadi preman, politisi kadal, atau pengusaha tamak.
Untuk soal begitu, Indonesia punya nama penting: Mochtar Lubis. Tokoh ini susah didelete bila hendak mengaduk pers dengan politik di Indonesia. Ia bisa buat pers dan politik ibarat saudara kembar, “pers campur politik”nya bisa sekeras batu granit, gara-gara suka berjihad melawan kebatilan, kezaliman, dan kemungkaran lain. Jihadnya terdengar sampai jauh: sampai berbagi dengan wartawan lain, pengarang lain, budaya lain, dan negeri- negeri lain.
Jihad “pers campur politik”nya dinilai ikut menyetrum keindonesiaan paruh kedua abad XX. “Ketika rakyat Nusantara menjadi bangsa merdeka…. ketika praktik jurnalisme kontemporer mengambil bentuk…,” tulis David T. Hill (2011).
Ketika pelbagai pers dan tokohnya menyeruak: mengendalikan politik, pendidikan, kebudayaan, dan memberi arti apa itu Indonesia. Sebuah era, “Ketika para pemimpin redaksi media cetak yang berkepribadian kuat menguasai industri dan berbicara langsung pada pimpinan bangsa, atau… beradu pendapat dengan para politisi…”
Namanya pun sampai terselip dalam Historical Dictionary of Journalism, karya Ross Eaman (2009). Setelah menjelaskan European news jadi awal gerak pers Indonesia, ia lalu mencatat Bataviasche Courant (1816), Medan Prijaji (1907), pers Tionghoa-Indonesia Batavian Malay, pers peranakan Jepang, dan pemunculan underground press nasionalis. “Mochtar Lubis, editor of Indonesia Raya (1949–74), was jailed by both the Sukarno and Suharto governments,” tulis Eaman.
Jihad “pers campur politik” macam itu jadi punya nilai heroik, dalam lanskap tertentu, di jargon perjuangannya yang khas: merdeka atau “ditahan” (penguasa). Pers Indonesia memang banyak diwarnai perlawanan vis-à-vis penguasa. Kalau pun ada kisah menohok pengusaha, biasanya, dicampuri bumbu penguasa: baik di masa kolonial, Perang Kemerdekaan, pun pascaproklamasi.
Tapi, heroisme macam itu mulai bergincu lain, saat Orde Baru perlahan lumpuh, lalu runtuh. “Only since the resignation of Suharto in 1998 has the press begun to acquire a measure of freedom, leading to a rapid growth in news media,” nilai Eaman.
Perubahan pun terjadi. Heroisme “pers campur politik” lantas berganti rupa. Seakan mengikuti gagas Thomas L. Friedmand, Hot, Flat, and Crowded (2008), heroisme kampung global manusia ada diakses “pasar”: kisah heroisme wartawan (media) pun jadi komoditas. Pers tak lagi milik jurnalisme. Jurnalisme tak hanya milik pers.
Kini, jurnalisme sudah terdiferensiasi, seru Brian McNair (2005), lewat What Is Journalism. Jurnalisme toh suka dipermak jadi pembungkus realitas (to highlight the fact) atau agen manufaktur “sebuah kenyataan”, masyarakat yang ingin punya “pasar informasi”.
Akhirnya, wartawan (media), suka mengomodifikasi “seseorang” jadi “barang”. Mengomodifikasi tokoh jadi “toko” (pikiran). Jurnalisme jadi punya warna “cultural commodity, an art form, an entertainment medium and a mode of political action.” Di satu momen, semua warna itu tumplek jadi satu.
Ragam kehidupan dan keilmuan telah memperalat jurnalisme dalam berbagai bentuk. Bagi segolongan pihak, jurnalisme seperangkat alat ritual: menyembah keahlian “tradisi” berabad-abad.
Segolongan pihak lain, jurnalisme seperangkat alat ibadah: menyembah nilai dan etik demokrasi. Sebagian pihak lagi, jurnalisme seperangkat akad kreatif: menyembah imajinasi dan kepekaan estetik dalam pekerjaan, atau wawancara, secara ringkas. Jurnalisme sabar menampung semuanya.
Jurnalisme kelak pasrah menerima pelaku, dan khalayaknya, simpul McNair, mematut-matut kepentingan abad 21.
Septiawan Santana K.|Pengajar jurnalistik di Universitas Islam Bandung