restorasi

Zaman Menghendaki Perubahan

Surya Paloh

Belakangan, kita mulai sering mendengar banyak kalangan menginisiatifkan dan menyuarakan gerakan perubahan. Tapi, perubahan tentu saja bukanlah sebongkah mimpi. Gerakan juga bukanlah permainan belaka.

Untuk itu, gerakan dan perubahan mensyarakatkan semua pirantinya terpenuhi. Tapi, di tengah tsunami politik gelembung dan pragmatisme politik uang, bagaimana kita harus menuntaskannya?

Haruskah kita membayar orang-orang untuk turun ke jalan dan meneriakkan “perubahan dan restorasi Indonesia”? Jawabannya, tidak! Pada posisi ini, kita harus memancang dan meneguhkan garis pembatas, kuda-kuda, dan fondasi kokoh bernama ideologi.

Ideologi kita adalah Pancasila yang merupakan ejawantah trisakti berupa politik solidaritas, ekonomi emansipasi dan partisipasi, serta kultur gotong royong. Inilah hakikat jati diri, sejarah, kekuatan, dan pilihan sadar kita.

Setelah memiliki basis ideologi yang jelas, gerakan perubahan harus mampu menerjemahkan, menjalankan, dan membumikan ideologinya. Poin krusial ini tentunya perlu diperiksa kelengkapannya. Kekuatan perubahan harus punya infrastruktur mendetail, tertata, dan terkelola apik, serta ditangani insan yang kapabel dan handal.

Tapi, sudahkah kita memiliki tangan-tangan yang kompak untuk menjemput mereka yang menghuni apartemen mewah? Sudahkah kita punya kaki-kaki yang mantap untuk menggerakkan mereka yang hidup di dusun-dusun? Sudahkah kita memiliki mata, hati, jantung, lambung, dan semua kelengkapan sebagai kekuatan perubahan?

Restorasi Indonesia bukanlah jargon di siang bolong. Juga bukan statemen yang membingungkan khalayak luas. Hanya kader-kader tercerahkan dan tergerak hatinya saja yang mampu menjemput, menggerakkan, dan merawat potensi perubahan ini. Merekalah para pelopor gerakan perubahan untuk restorasi Indonesia.

Nah, jika ideologi sudah jelas dan tegas, infrastruktur telah terkonsolidasi dan siap instruksi, kita masih membutuhkan syarat ketiga yang berasal dari sosok guru perubahan itu sendiri. Yaitu, tumbuh dan hidup dari lubuk hati dan nurani rakyat. Karena, rakyatlah sejatinya pemegang kedaulatan dalam negara republik.

Syarat inilah yang menjadi kemauan zaman dan alam. Semua itu tercakup dalam satu kategori yang dinamakan dengan harapan. Khususnya, harapan untuk hidup lebih baik, maju bersama, serta kebangkitan kembali Indonesia di percaturan dunia internasional.

Manusia diyakini betul memiliki umur yang panjang bila harapannya tetap terperlihara dan terus hidup. Semakin manusia kehilangan harapan, semakin kuat pula dorongan hasratnya untuk melakukan bunuh diri. Karenanya, harapan adalah nyawa dari nyawa biologis dan psikologis kita.

Harapan yang berkarakter manusiawi niscaya berorientasi pada perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam konteks keIndonesiaan, ia mengarah pada restorasi nasional serta kemunculan kepemimpinan yang lebih visioner, berani, dan memiliki kerelaan terhadap kemajuan bangsa dan negara.

Bila rakyat telah diliputi semangat dan harapan semacam itu, para ideolog yang bekerja serius dan telaten untuk merestorasi Indonesia dijamin bakal mampu mewujudkan harapan mereka. Insya Allah, semangat zaman, hukum alam, dan kerelaan Allah akan memposisikan mereka sebagai mahkota perubahan dan restorasi nasional yang cemerlang di masa depan yang tak lama lagi.[]