Masyarakat cenderung skeptis, bahkan sinis, terhadap partai politik (parpol). Penyebabnya tak lain perilaku elit politik sendiri yang tak mampu mengedepankan keteladanan sebagai sumber spirit bangsa. Tiadanya semangat berkorban dan kejujuran menjadi bagian dari sekian faktor kegagalan parpol dipercaya rakyat. Kalangan elit lebih mengejar interes pribadi atau kelompok ketimbang hajat khalayak luas. Rakyat juga cuma disuguhi adegan konflik kepentingan. Serupa pementasan drama di panggung politik kolosal yang tiap episodenya berdurasi pendek; tapi tak pernah habis, susulmenyusul, skenario lama diganti yang baru. Mereka hanya memproyeksikan tujuan pada satu episode saja. Episode berikutnya ganti pemain atau judul cerita. Intinya seputar kepentingan jangka pendek tapi frekuensinya dibuat makin sengit. Karenanya, perlu inisiatif untuk mengingatkan sesama elit politik, khususnya partai-partai besar. Toh, apapun yang terjadi di masyarakat, baik atau buruk, parpol harus bertanggungjawab. Dendam lama mesti sama-sama dipupus. Romantika masa lalu jika diingat sebagai keburukan, layak dilupakan. Mari mencoba sesuatu yang lebih berarti: forum silaturahmi. Spirit kebersamaan dapat dipupuk dengannya demi membangun bangsa lewat komunikasi informal dan membatin (bukan lagi formal). Ini agar tercipta iklim dan terobosan baru. Silaturahmi, berujung formal. Namun minimal kita telah mengawali proses yang tidak instan, yang memungkinkan sharing gagasan lebih mendalam. Plus, membiasakan kajian lebih ekstensif. Celah untuk mencetuskan ide strategis yang lebih greget pun kian terbuka lebar. Sebagai forum, ia tidak dibatasi struktur kepartaian. Silaturahmi jadi domain terbuka yang bebas hirarki,
golongan, dan status. Kebanyakan kita terlanjur rancu berpikir dan mendahului kenyataan dengan mengkaplingkapling pikiran. Lebih lagi, kita acap ber-negative thinking. Wajar jika terjalin interaksi sosial penuh gesekan, yang berujung merebaknya social distrust. Inilah penyebab ranah politik menjelma sebagai grey area yang tak lagi membedakan mana yang jahat, mana yang baik.Gejala ini tentu memukul jiwa yang memimpikan dan ingin melihat kejayaan masa depan bangsa. Sayang, banyak yang tak menyadari bangsanya sedang dibekap problem serius. Akibatnya, orang yang tergerak hatinya untuk menyuarakan itu malah dituding sedang beretorika. Ya, kita sedang sakit dan tidak menyadarinya. Tapi, kita tidak perlu menunggu dokter memberitahu kita sakit. Kita sendiri yang harus mencaritahu dan mengobatinya. Terlebih kaum elit yang sudah mengenyam banyak fasilitas dari negeri ini. Mereka harus melakukannya sebagai ungkapan terima kasih dan rasa syukur. Tak ada yang layak menerima bakti dan pengabdiannya, kecuali bangsa di mana mereka hidup. Kondisi ini mensyaratkan perubahan. Tapi, untuk berubah, jujur saja belum cukup, kendati itu prinsipal. Kita juga butuh otoritas dan power. Inilah yang membuat signifikan silaturahmi antar elit politik. Mereka bisa saling mengungkapkan harapan positif. Tapi, yang terpenting, mereka semua punya motif kuat membangun karakter bangsa. Komunikasi politik dalam figura ini dijamin akan mencairkan sekat antar parpol. Jelas mustahil ada parpol yang tidak nasionalis selama masih berada dalam satu wilayah negara. Tersebarnya para nasionalis di berbagai parpol hanyalah konsekuensi kemajemukan bangsa dan pilihan individu. Makin banyak anak bangsa yang terlibat, makin realistis misi ini. Karenanya, forum lintas partai jangan sampai kontraproduktif, misal, dengan mengklaim si anu “kiri” atau “kanan”. Alih-alih memperkuat kebersamaan dan optimisme, polarisasi kita-mereka malah akan menajam, pesimisme makin popular. Semua ini diorientasikan
untuk menjaga kebersamaan agar benteng nasionalisme tetap tegak. Apalagi mengingat fundamental nasionalisme kita, Pancasila, sedang digerogoti dari berbagai sisi. Salah satunya oleh anggapan miring sekarang: yang membicarakan Pancasila hanyalah orang tolol dan dungu. Tapi, adakah yang lebih urgen dari Pancasila? Basis ideologi bangsa diperlakukan seperti itu seolah-olah kita sedang mencari identitas baru. Identitas seperti apa? Sebenarnya, kita sedang mengolokolok mahkota bangsa yang sampai sekarang tak tergantikan. Selamanya kita tak mampu menghadirkan identitas tandingan. Pancasila adalah dasar komitmen bersama yang mewakili rasa kebangsaan di negeri ini secara menyeluruh. Bila dijalankan sepenuh hati, ia akan jadi sumber kekuatan dahsyat.[]